IOC Tegaskan Tak Ada Rencana Pembatalan Olimpiade Tokyo

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    Logo Olimpiade Tokyo 2020 yang ditunda hingga 2021 karena wabah penyakit coronavirus (COVID-19), terlihat di dekat papan rambu lalu lintas di gedung Kantor Pemerintah Metropolitan Tokyo di Tokyo, Jepang 22 Januari 2021. Olimpiade Tokyo seharusnya digelar pada 2020 namun pandemi Covid-19 membuat Komite Olimpiade Internasional mengundurkan pesta olahraga dunia itu selama satu tahun. REUTERS/Issei Kato

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Olimpiade Internasional (IOC) membantah rumor soal rencana pembatalan Olimpiade Tokyo. Presiden ICO, Thomas Bach, menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen penuh untuk menyelenggarakan Olimpiade Tokyo dengan sukses dan aman.

    Meski sebagian besar wilayah Jepang berada dalam keadaan darurat karena gelombang ketiga penyebaran Covid-19, Bach mengatakan semua pemangku kepentingan berkomitmen untuk melanjutkan pesta olahraga tersebut. Dia menilai rumor soal pembatalan Olimpiade merupakan spekulasi.

    "Kita kehilangan waktu dan energi untuk spekulasi," katanya pada konferensi pers virtual setelah pertemuan dewan eksekutif pertama IOC tahun ini.

    Bach pun enggan membahas lebih lanjut soal rumor pembatalan Olimpiade yang telah diundur satu tahun tersebut.

    "Tugas kami adalah menyelenggarakan Olimpiade dan bukan membatalkan Olimpiade. Inilah alasan kami bekerja siang dan malam, untuk menyelenggarakan Olimpiade yang aman," katanya.

    "Kami tidak berspekulasi apakah Olimpiade tetap akan berlangsung. Kami sedang mengerjakan bagaimana Olimpiade akan berlangsung," katanya.

    IOC, menurut dia, akan mengeluarkan pedoman untuk atlet dan tim yang akan bertanding bulan depan. Namun, dia mengakui masi banyak masalah utama yang masih belum jelas seperti kehadiran penonton dan izin bagi pengunjung internasional untuk dapat melakukan perjalanan ke Jepang.

    Baca: IOC Bakal Periksa Penolakan Warga Jepang Terhadap Olimpiade Tokyo 2021

    IOC telah memangkas durasi tinggal atlet di Jepang. Mereka akan tiba sesaat sebelum kompetisi dan langsung pergi setelahnya untuk mengurangi resiko terinfeksi Covid-19.

    "Saya tidak bisa memberi tahu Anda," katanya terkait kehadiran penonton di stadion. "Prioritas kami adalah memastikan Olimpiade aman dan kami akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk menyelenggarakan Olimpiade yang aman."

    "Semua orang akan senang melihat stadion berkapasitas penuh dan gemuruh suara kerumunan orang, tetapi jika ini tidak memungkinkan, maka kami akan menghormati prinsip kami, dan ini adalah organisasi yang menjunjung tinggi keamanan. Ini adalah prioritas pertama."

    IOC, lanjut Bach, juga telah mengirimkan surat kepada 206 komite Olimpiade di setiap negara untuk membicarakan soal vaksin bagi para atlet. Meskipun demikian, Bach mengatakan bahwa IOC tak mendorong agar atlet mendapatkan prioritas lebih dari kelompok prioritas atau beresiko tinggi.

    "Kami selalu menegaskan bahwa kami tidak mendukung atlet melompati antrean," kata Bach. "Di baris pertama ada kelompok beresiko tinggi, petugas kesehatan dan orang-orang yang menjaga agar masyarakat kita tetap hidup. Itu adalah prioritas pertama dan ini adalah prinsip yang telah kita tetapkan."

    Kabar soal pembatalan Olimpiade Tokyo tersebar luas dalam sepekan terakhir. Jajak pendapat di Jepang menunjukkan sekitar 80 persen masyarakat menentang acara yang akan berlangsung pada bulan Juli itu. Sejumlah masyarakat bahkan menyarankan Olimpiade harus dibatalkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?