Soal Capaian Ahsan / Hendra di BWF World Tour Finals, Pelatih: Sudah Maksimal

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan merayakan kemenangan bersama Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Iman Pierngadi (kanan) seusai final BWF World Tour Finals 2019 Guangzhou, Ahad, 15 Desember 2019. Di tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting gagal juara setelah kalah dari Kento Momota. Badmintonindonesia.org

    Hendra Setiawan (kiri) dan Mohammad Ahsan merayakan kemenangan bersama Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI, Herry Iman Pierngadi (kanan) seusai final BWF World Tour Finals 2019 Guangzhou, Ahad, 15 Desember 2019. Di tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting gagal juara setelah kalah dari Kento Momota. Badmintonindonesia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih pelatnas bulu tangkis ganda putra Herry Iman Pierngadi menilai capaian Hendra Setiawan / Mohammad Ahsan di turnamen BWF World Tour Finals 2020 sudah maksimal. Menurut dia, hasil sebagai runner up sudah cukup bagus mengingat usia dan stamina yang tidak lagi muda.

    Sebagai pemain senior, masalah usia menjadi tantangan tersendiri bagi Ahsan / Hendra. Ahsan sudah berusia 33 tahun, sedangkan Hendra 36 tahun. Menurut Herry IP, keduanya cukup sulit untuk melawan pemain-pemain yang perbedaan usianya mencapai 10 tahun terutama dalam sisi fisik dan tenaga.

    Sehingga, menurut dia, mencapai babak final sudah merupakan pencapaian yang baik bagi sang juara World Tour Finals 2019 ini. "Memang buat Ahsan / Hendra, pencapaian bisa sampai final dengan usia seperti ini, menurut saya sudah cukup baik di usia mereka yang di atas 30 tahun. Meski belum sempurna untuk menjadi juara," kata Herry dikutip rilis PBSI, Ahad, 1 Februari 2021.

    Baca juga : Kata Ahsan / Hendra Setelah Gagal Pertahankan Juara di BWF World Tour Finals

    Selain itu, Herry menilai permainan yang ditampilkan Lee Yang / Wang Chi Lin pada tiga turnamen di Thailand sangat konsisten. The Daddies yang sempat bertemu wakil Taiwan itu di Thailand Open seri kedua pekan lalu juga berakhir dengan kekalahan.

    "Kalau melihat permainan tadi memang Hendra / Ahsan kalah tenaga tangannya. Pertama karena lapangannya juga kalah angin. Harus diakui pemain Taiwan ini selama tiga minggu penampilannya konsisten banget. Penampilan mereka di Thailand Open sangat bagus. Baik dari fisik, tenaga, konsentrasi, dan fokusnya luar biasa menurut saya," tutur Herry.

    Herry juga melihat bahwa strategi permainan pun sulit untuk diterapkan. Sejak awal kualitas lawan memang lebih unggul, mereka bermain sangat cepat dan keras.

    "Kalau strategi sebenarnya tidak terlalu berpengaruh. Memang game pertama itu kita tertekan terus, tidak bisa keluar. Kualitas drive mereka sangat keras dan cepat. Jadi kita mau antisipasi atau mengubah cara main juga tidak bisa, karena mereka menyerang dan menekan terus menerus. Kami mau tahan atau rem juga mereka langsung menutup lagi. Tenaga dari tangan kami kalah," kata Herry.

    "Bolanya kalah cepat karena keras. Kalau kemarin lawan Korea Selatan hampir sama sebenarnya mainnya, meski tenaganya lawan agak turun sedikit. Kalau ini (Taiwan) tenaganya masih konsisten. Tidak bisa diakalin sama sekali. Jadi memang yang utamanya adalah kalah di kecepatan dan tenaganya," kata Herry Iman Pierngadi soal penampilan Ahsan / Hendra di BWF World Tour Finals.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.