Profil Wesley So, Anak Ajaib Catur yang Merana di Filipina Lalu Mencorong di AS

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wesley So. (instagram/@grandchesstourofficial)

    Wesley So. (instagram/@grandchesstourofficial)

    TEMPO.CO, JakartaWesley So baru saja menjadi juara turnamen catur Open Euro Rapid dengan mengalahkan pemain peringkat satu sekaligus juara dunia, Magnus Carlsen. Ia adalah anak ajaib yang merasa tersisa-sia di negaranya, Filipina, sehingga memilih hijrah ke Amerika Serikat.

    Wesley So, 27 tahun, menjuarai Euro Rapid berkat kemenangan 2,5-1,5 atas Carlson dalam final yang berlangsung secara virutal, Ahad, 14 Februari 2021. Gelar di turnamen menambah koleksi trofinya, yang terus bertambah setelah meninggalkan Filipina untuk hijak ke Amerika pada 2014.

    Ia sebelumnya berhasil menjuarai turnamen catur Amerika pada 2017 dan 2020. Ia juga menjuarai Bilbao Chess Masters 2015, Grand Chess Tour 2016, Sinquefield Cup, dan London Chess Classic, dan Tata Steel Masters (2017).

    Kehebatan Wesley So sudah terlihat sejak belia. Ia lahir di Bacoor, Cavite, Filipina, pada 9 Oktober 1997. Ia sudah menjadi grandmaster saat berusia 14 tahun. Ia juga menjadi pemain termuda yang mampu melewati elo rating 2600 pada Oktober 2008, memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh Magnus Carlsen.

    Ia mengaku menempa diri di jalanan. "Jadi, setiap minggu saya akan memotong kliping koran tentang permainan grandmaster terkenal, mempelajarinya, dan kemudian saya akan pergi dari jalan ke jalan dengan papan seadanya, menantang siapa saja yang tahu cara bermain,” kata Wesley So kepada Chess.com dalam sebuah wawancara pada April 2020.

    Tapi, sebagai bocah ajaib dunia catur, perjalanan kariernya tak mudah. Ia bahkan melukiskannya sebagai "berliku dan membuat frustrasi". Ketika berusia 16 tahun ia harus berpisah dengan orang tuanya yang memilih beremigrasi ke Kanada.

    "Ibu saya ingin saya menjadi akuntan, sementara saya ingin berhenti sekolah dan menjadi profesional. Jadi mereka meninggalkan saya di Filipina ketika saya baru berusia 16 tahun dan beremigrasi ke Kanada," kata Wesley So.

    Ia sempat terlunta-lunta dan akhirnya tinggal sebuah apartemen di Manila milik federasi catur, yang sering kali tidak ada listrik. "Saya mendapat dukungan bulanan, dan saya akan bermain dan memenangkan turnamen di sana-sini, tetapi hanya selama beberapa tahun. Saya akhirnya mendapat kesempatan untuk pindah ke AS pada tahun 2012," kata dia.

    Ia mendapat beasiswa dari Webster University di Amerika. Ia kemudian memilih pindah secara permanen ke negara itu pada 2014, bergabung dengan keluarga adopsinya, aktris Lotis Key dan keluarganya, yang memiliki darah Filipina.

    Ia memilih hijrah ke Amerika karena merasa tak mendapat dukungan memadai dari Filipina. “Menang ada struktur catur dasar di Filipina, tetapi hanya ada sedikit sistem pendukung untuk mengembangkan pemain bagus menjadi bintang global,” kata Wesley So.

    “Meskipun sekolah Cina atau India akan mengidentifikasi anak laki-laki berbakat pada usia empat tahun, dan mulai memberi mereka semua jenis bantuan, tidak ada strategi jangka panjang untuk pembangunan di Filipina.”

    “Masalah utamanya adalah korupsi. Sulit bagi atlet untuk mendapatkan bantuan finansial untuk bertanding di luar negeri, terutama jika mereka tidak memiliki koneksi."

    "Misalnya, kami akan mengirim tim ke Asian Games dan akan ada lebih banyak ofisial di pesawat daripada atlet. Tapi korupsi tertanam jauh di dalam budaya kita. Itu mungkin berasal dari tahun-tahun penjajahan dan dominasi kekuatan asing."

    Wesley So tidak berasal dari keluarga kaya. Ia juga tak memiliki koneksi. Dan itu membuatnya sulit bicara di level dunia.

    “Di negara dunia ketiga, catur adalah permainan orang miskin,” katanya. “Orang kaya bermain tenis, polo, dan golf, sementara orang miskin bermain catur karena Anda tidak membutuhkan apa pun — tidak ada seragam, tidak ada lapangan atau lapangan."

    Sejak hijarah ke Amerika dan menjadi warga negara itu sejak 2014, karier Wesley So terus beranjak. Ia sudah membela bendera Amerika pada Olimpiade Catur ke-42, pada 2016. Kala itu ia ikut mengantar negara barunya itu meraih medali emas.

    Baca Juga: Kejutan Saat Wesley So Kalahkan Juara Dunai Magnus Carlsen

    Pada 2017 ia sempat mencapai ranking tertinggi dunia, yakni posisi dua. Performanya kemudian turun jauh pada tahun berikutnya. Tapi, kini ranking masih ada di posisi 10 besar, yakni 8 dunia. "Di dunia catur, ada pasang surut, dan hal-hal seperti kondisi fisik dan kehidupan pribadi benar-benar dapat mempengaruhi permainan Anda," kata dia.

    Wesley So yakin dengan mengikuti banyak turnamen posisinya akan kembali naik. Ia hanya perlu menemukan permainan terbaiknya saat menghadapi papan catur. Ia sudah tahu rahasia kekuatannya. "Permainan terbaik saat saya sangat senang. Saat-saat ketika saya tidak bahagia, Anda bisa melihatnya dalam permainan saya. Beberapa pemain sangat termotivasi oleh antagonisme. Saya tidak punya itu. Terkadang saya merasa tidak enak saat mengalahkan seseorang."

    INQUIRER | CHESS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.