Survei World Athletics: Pengembangan Fasilitas Olahraga Atletik Masih Terkendala

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah atlet uji coba lari 200 meter di lintasan lari Stadium Lukas Enembe, Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa 9 Februari 2021. Sekum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Papua Markus Raubaba mengaku sebanyak 55 atlit akan di saring bulan April mendatang untuk penentuan target emas masing-masing dari tolak peluru, lari, dan lempar lembing dalam PON XX 2021 mendatang. ANTARA FOTO/Indrayadi TH

    Sejumlah atlet uji coba lari 200 meter di lintasan lari Stadium Lukas Enembe, Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Selasa 9 Februari 2021. Sekum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Papua Markus Raubaba mengaku sebanyak 55 atlit akan di saring bulan April mendatang untuk penentuan target emas masing-masing dari tolak peluru, lari, dan lempar lembing dalam PON XX 2021 mendatang. ANTARA FOTO/Indrayadi TH

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) membuka hasil survei dari Global Conversation, sebuah survei yang sedang diadakan oleh Badan Atletik Dunia (World Athletics). Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor Tanjung menyebutkan survei ini akan menentukan arah dari olahraga atletik untuk 10 tahun ke depan.

    "Survei ini merangkum kesimpulan sementara bahwa kualitas yang lebih baik dan tambahan fasilitas, liputan media yang lebih besar, termasuk di media elektronik seperti televisi, dan lebih banyak lagi program atletik di sekolah-sekolah adalah kunci dari pengembangan atletik di seluruh dunia," ujar Tigor di Jakarta pada Jumat, 30 April 2021.

    Survei dimulai pada akhir Maret hingga akhir April. Sebanyak 10 ribu masukan dari 141 negara menjadi bagian dari survei tersebut. Selain itu, sampai hari ini, hampir seribu orang atlet profesional telah terlibat dalam pengambilan data. Hasilnya, sebanyak 27 persen responden merasa kurangnya fasilitas menjadi tantangan utama dalam mengembangkan olahraga atletik di negara mereka.

    Permasalahan yang muncul dalam survei Global Conversation ini menjadi penting untuk memberi rekomendasi pembentukan World Plan for Athletic. “Seperti di Indonesia, ketersediaan fasilitas dengan standar yang sama di setiap cabang PB PASI masih menjadi kendala hingga saat ini yang berujung pada lambatnya regenerasi atlet,” ujar Tigor.

    Temuan lainnya menyatakan bahwa 55 persen pelatih setuju olahraga atletik adalah cabang olahraga yang paling mudah diakses dan menjadi aktivitas terbaik untuk mewujudkan dunia yang lebih sehat dan fit. "Mereka yang bisa dianggap sebagai atlet amatir adalah bagian terbesar dari demografik sejauh ini."

    Hasil survei juga menyebutkan bahwa para penggemar atletik ingin melihat lebih banyak liputan di media. Sebanyak 33 persen responden menyebutkan minimnya pemberitaan di media dan televisi merupakan tantangan terbesar untuk menarik minat penggemar ke atletik. "Porsi keberadaan atletik yang lebih banyak di kurikulum sekolah adalah solusi utama sejauh ini untuk menarik para penggemar atletik," ujarnya.

    Temuan-temuan survei ini akan dipakai untuk merancang World Plan for Athletics 2022-2030, sebuah dokumen kunci untuk semua pihak yang terlibat dalam atletik. Tujuannya mempersiapkan sebuah peta jalan dari pertumbuhan dan pengembangan dari atletik melalui kerjasama dari Badan Atletik Dunia, Member Federations dan Area Associations, dan pihak-pihak yang berkecimpung dalam olahraga atletik di dunia.

    Baca juga : Tanggapan Lalu Muhammad Zohri Setelah Masuk Daftar Bergengsi Majalah Forbes


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.