Masomah Ali Zada, Atlet Pengungsi Afghanistan, Ingin Jadi Mercusuar di Olimpiade

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengungsi sekaligus atlet balap sepeda jalan raya Afghanistan Masomah Ali Zada. (Antara/afp)

    Pengungsi sekaligus atlet balap sepeda jalan raya Afghanistan Masomah Ali Zada. (Antara/afp)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengungsi Afghanistan Masomah Ali Zada mengusung misi besar saat tampil di Olimpiade Tokyo. Ia berharap menjadi mercusuar untuk kaum perempuan yang terpaksa meninggalkan negaranya, atau harus melupakan impian olahraganya, ketika dia melewati garis start pesta olahraga di Jepang itu.

    Pembalap sepeda berusia 24 tahun itu dilempari batu dan diserang secara fisik di tanah kelahirannya karena berani mengenakan pakaian olahraga dan mengayuh sepeda di depan umum.

    Dia akan berlomba dalam Olimpiade 2020 untuk Tim Pengungsi Olimpiade. Dia merasa memiliki kewajiban mewakili 82 juta orang di seluruh dunia yang terpaksa meninggalkan tanah airnya atau sebagai pengungsi.

    Dia juga memandang dirinya sebagai wakil perempuan yang hidup dalam masyarakat represif, serta olahragawati yang mengenakan jilbab.

    Tapi dia rela menanggung beban itu dan sekaligus bangga.

    "Saya akan mewakili kemanusiaan," kata Ali Zada kepada AFP.

    "Ini bukan hanya demi saya. Ini lebih demi semua wanita di Afghanistan dan semua wanita di setiap negara seperti Afghanistan yang tidak memiliki hak bersepeda," kata dia saat kelompok garis keras Taliban kembali menyapu seluruh negeri itu.

    "Dan juga demi semua pengungsi yang terpaksa meninggalkan tanah airnya."

    "Saya ingin membuka pintu demi pengungsi-pengungsi lain yang akan datang setelah saya."

    Ali Zada akan menghadapi 25 peserta time trial jalan raya putri Olimpiade.

    Ketika dia berlomba pada 28 Juli nanti menempuh jalur sejauh 22,1 kilometer, itu bakal menjadi pertama kalinya dia berlomba dalam nomor time trial.

    Lima puluh enam atlet pengungsi diberikan beasiswa solidaritas oleh Komite Olimpiade Internasional IOC, dan 29 atlet di antaranya terpilih untuk ikut berlomba dalam Olimpiade Tokyo.

    Ali Zada diberi pelatihan intensif selama sebulan di UCI World Cycling Center di Aigle, Swiss barat, sebelum tiba di Jepang pada Rabu.

    Jean-Jacques Henry, pelatihnya di pusat pelatihan tersebut, menyebutnya sebagai atlet balap sepeda putri terbaik yang pernah dihasilkan Afghanistan, dan terkesan dengan kemajuan pesat sang atlet. 

    Selanjutnya: Pernah Dipukuli Orang


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.