Olimpiade Tokyo: Sprinter Ini Hendak Dipulangkan Paksa Timnya, Ngadu ke Polisi

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi atletik Olimpiade Tokyo. REUTERS/Fabrizio Bensch

    Ilustrasi atletik Olimpiade Tokyo. REUTERS/Fabrizio Bensch

    TEMPO.CO, JakartaSeorang sprinter Belarusia mengaku dibawa ke bandara di luar keinginannya, Minggu, untuk diterbangkan pulang ke negaranya setelah dia secara terbuka mengkritik pelatih nasional di Olimpiade Tokyo.

    Krystsina Tsimanouskaya, yang akan bertanding di nomor 200 meter putri pada Senin, mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak berencana untuk pulang ke negaranya. Dia telah mencari perlindungan kepada polisi Jepang di bandara Haneda Tokyo sehingga dia tidak jadi naik pesawat.

    "Saya tidak akan kembali ke Belarusia," katanya kepada Reuters dalam pesan melalui Telegram.

    Komite Olimpiade Belarusia belum menanggapi permintaan komentar.

    Tsimanouskaya, 24 tahun, menjelaskan staf pelatih datang ke kamarnya pada Minggu dan menyuruhnya untuk berkemas. Dia dibawa ke bandara sebelum dia berlaga di nomor 200 meter dan estafet 4x400 meter pada Kamis.

    Dia mengatakan telah dikeluarkan dari tim karena "fakta bahwa saya berbicara di Instagram saya tentang kelalaian pelatih kami".

    Tsimanouskaya sebelumnya mengeluh karena dia masuk nomor estafet 4x400 m setelah beberapa anggota tim tidak memenuhi syarat untuk bersaing di Olimpiade karena mereka tidak menjalani tes doping.

    "Beberapa atlet tidak bisa terbang ke sini untuk bertanding nomor estafet 4x400 m karena terkendala tes doping," kata Tsimanouskaya kepada Reuters dari bandara.

    "Dan pelatih memasukkan saya ke estafet tanpa sepengetahuan saya. Saya berbicara tentang ini di depan umum. Pelatih kepala datang kepada saya dan mengatakan ada perintah dari atas untuk mengeluarkan saya."

    Tsimanouskaya menambahkan dirinya berdiri di samping polisi Jepang di bandara dan dia telah menghubungi seorang anggota diaspora Belarusia di Jepang untuk menjemputnya di bandara. Polisi Haneda mengaku tidak ada seorang pun yang dapat dimintai komentar, demikian laporan Reuters.

    Baca Juga: Kata Luhut Pandjaitan Soal Kiprah Lalu Muhammad Zohri yang kandas di babak Pertama Olimpiade


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.