Cerita Apriyani Rahayu Kecil: Raket Kayu, Berjalan 10 Km Hingga Minta Bantuan

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Apriyani Rahayu saat berfoto di atas Jeep. (Sumber: Instagram/@r.apriyanig)

    Apriyani Rahayu saat berfoto di atas Jeep. (Sumber: Instagram/@r.apriyanig)

    TEMPO.CO, Kendari - Deringan diujung telepon, Senin subuh 2 Agustus 2021 itu mengagetkan Amiruddin Pora. Penelponnya tak lain adalah Apriyani Rahayu yang merupakan putri satu-satunya Amiruddin.

    Ani, sapaan si putri, hendak meminta restu karena akan melakoni laga final bulu cabang tangkis nomor ganda putri pada Olimpiade Tokyo 2020. Mereka bercakap sebentar, lalu sambungan telepon pun terputus.

    "Kalau ada pertandingan saya memang harus “antar”, kami bicara cepat. Dia bilang, 'Minta doanya pak, saya mau bertanding sebentar.' Saya jawab, 'Fokus saja dan bawa santai',” tutur Amiruddin kepada Tempo melalui sambungan telepon.

    Di rumahnya di Kelurahan Lawulo Kecamatan Anggaberi Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Amiruddin bersama kerabat dan warga sekitar menonton siaran langsung aksi sang putri bersama Greysia Polii di final. Tak ada perasaan cemas atau pun kaget di dada Amiruddin saat keduanya menumbangkan pasangan Cina Chen Qing Chen / Jia Yi Fan dua gim langsung dengan skor 21-19 dan 21-15.

    Amiruddin hanya terharu dan ada merasa sangat bangga karena Greysia / Apriyani telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.

    "Tidak ada firasat khusus, saya yakin saja mereka akan berikan yang terbaik buat negara. Saya bangga, saya berdoa bukan hanya untuk Ani tapi juga untuk Greysia," kata dia.

    Menurut Amiruddin, putri semata wayangnya itu mulai mengenal olahraga bulu tangkis sebelum masuk sekolah dasar. Kesukaan bungsu dari 4 bersaudara pada olahraga tepok bulu itu tertular dari ibunya, Sitti Jauhar. Istri Amiruddin yang meninggal pada 2015 itu memang menggemari olahraga bola voli, tenis meja dan bulu tangkis.

    "Memang dari mamanya dia lihat, jadi waktu itu kita bilangnya tepok bulu, raketnya pake kayu atau raket bekas yang (senarnnya) disambung-sambung," kata Amiruddin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.