Shin Tae-yong, Lelaki dari Gyeongbuk Menukangi Timnas Indonesia

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Timnas Indonesia berhasil melaju ke babak ketiga kualifikasi Piala Asia 2023 setelah berhasil mengalahkan Taiwan dengan agregat 5-1. Salah satu orang yang berjasa bagi Timna Indonesia dalam mengalahkan Chinese Taipei adalah Shin Tae-yong (STY). Sebelum menangani Timnas Indonesia, STY pernah menukangi Timnas Korea Selatan dan saat itu berhasil menumban gkan juara Piala Dunia 2014, Jerman dengan skor 2-0.

    Lalu, bagaimana profil singkat STY?

    STY lahir pada 11 Oktober 1970 di Yeongdeok, Gyeongbuk, Korea Selatan. Sebelum menjadi juru taktik, STY pernah menjadi pemain sepak bola dan berposisi sebagai gelandang serang. Tim yang pernah dibela oleh STY adalah Seongnam Ilwa Chunma dari tahun 1992 hingga 2004 dan berhasil mengemas 76 gol dari 296 penampilannya.

    Selain itu, pada tahun 1992 hingga 1997, STY juga membela Timnas Korea Selatan. Selama menjadi pemain sepak bola, STY memiliki berbagai prestasi mentereng dan menjuarai banyak kompetisi, mulai dari K League 1 hingga Liga Champions Asia dan STY pernah meraih gelar top skor Liga Korea pada 1996.

    Selepas gantung sepatu, STY memutuskan untuk menjadi pelatih dan tim pertama yang ditukangi oleh STY adalah Queensland Roar. Di Queensland Roar, STY berposisi sebagai asisten pelatih. Kemudian, pada 2009, STY menukangi Seongnam Ilhwa Chunma selama tiga musim dan akhirnya pada 2014 hingga 2018, STY membesut Timnas Korea Selatan, baik senior maupun junior.

    Pada 2019, Shin Tae-yong dipinang PSSI untuk melatih Timnas Indonesia. Selama menjadi pelatih, salah satu prestasi mentereng STY adalah membawa Seongnam menjuarai Liga Champions Asia pada 2010.

    EIBEN HEIZIER

    Baca: Kata Shin Tae-yong Setelah Timnas Indonesia Lolos ke Kualifikasi Piala Asia 2023


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.