Fokus Penyembuhan Cedera, Maya Sheva Targetkan Bisa Ikut PON Berikutnya

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet karate putri, Maya Sheva. dok. Pribadi

    Atlet karate putri, Maya Sheva. dok. Pribadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Karateka Maya Sheva menyatakan masih berharap bisa terus berkarier di karate meski saat ini mengalami cedera lutut usai bertanding di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua.

    "Selagi masih bisa, saya akan terus di karate. Jika tidak ada pembatasan usia, saya juga akan berusaha untuk turun di PON berikutnya," kata Maya Sheva di GOR Politeknik Penerbangan, Kayu Batu, Jayapura, Kamis 14 Oktober 2021.

    Usai menjalani tugasnya di PON Papua, atlet berusia 27 tahun ini akan fokus pada penyembuhan cederanya. Maya tidak ingin cedera yang dialami berlarut-larut karena ada beberapa kejuaraan menunggu.

    "Mohon doanya agar secepatnya bisa kembali," kata peraih perunggu SEA Games 2019 Manila ini.

    Pada PON Papua, Maya Sheva turun di dua nomor yakni kumite perorangan -50kg dan kumite beregu putri. Pada kumite perorangan, karateka yang saat ini berhijap harus terhenti di pertandingan pertama.

    Maya mengalami cedera saat menghadapi atlet dari NTB Abdira Nadirasi. Saat itu wakil kontingen DKI Jakarta tersebut sempat unggul 5-3. Namun, saat kurang dari satu menit Maya dihantam cedera. Meski demikian ia tetap melanjutkan laga hingga menyerah 6-7.

    "Tekad saya hanya ingin menyelesaikan pertandingan apapun hasilnya. Saya sempat unggul, tapi kondisi di lapangan berbeda setelah cedera," kata juara bertahan kumite -50kg itu.

    Gagal di perorangan, Maya Sheva bisa tersenyum di kumite beregu setelah namanya tercatat sebagai anggota tim bersama Ceyco Georgia Zefanya, Devina Dea dan Bulan Suci Bawenti. Di nomor ini tim DKI Jakarta meraih emas PON Papua setelah mengalahkan tim Sumatera Utara dengan skor 2-1 dan Maya tidak perlu turun bertanding.

    Baca: PON Papua: Karateka Ceyco Georgia Tebar Pesona dan Berhasil Merebut Emas


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kereta Cepat Jakarta - Bandung: Sembilan Tahun Perjalanan hingga Bengkak Biaya

    Proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung jadi pembicaraan publik karena muncul cost overrun. Jokowi lantas meneken Perpres untuk mendukung proyek itu.