Tim Mancanegara di Tour de Singkarak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:  Kejuaraan balap sepeda Tour de Singkarak 2009 akan diikuti 25 tim dari dalam dan luar negeri. Wakil Ketua Umum PB ISSI Sofian Ruzian menyatakan pihaknya masih mencari satu tim luar negeri untuk memenuhi jumlah peserta itu. "Sisanya sudah konfirmasi bahkan ada yang sudah menyerahkan entry form by name," katanya di kawasan Senayan kemarin.

    Kejuaraan yang baru pertama kali digelar ini akan diikuti 10 tim dalam negeri. Beberapa di antaranya tim tangguh, seperti Polygon Sweet Nice, Custom Cycling Club, Dodol Picnic Garut, Bintang Kranggan Cycling Club, Araya Indonesia, dan Kutai Kartanegara.

    Selain itu, ada enam tim luar negeri yang belum menyerahkan daftar nama yang memperkuat timnya di ajang balap sepeda di kawasan Sumatera Barat tersebut. Salah satunya adalah tim Tabriz Petrochemical dari Iran. Mereka memenangi Tour d'Indonesia tahun lalu. Selain itu, terdapat tim asal Taiwan (Fuji Asia), Qatar (Doha Team), dan Swiss (Sport Powermove). Dua tim asal Malaysia juga belum menyerahkan daftar namanya.

    Adapun tim nasional Indonesia akan mengandalkan Tonton Susanto, Ryan Ariehaan, Kaswanto, dan Samai. Mereka akan dibantu dua atlet junior, yaitu Angga Fredly dan Yudo Sansongko.

    Menurut Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PB ISSI Wahyudi Hidayat, tim nasional tidak diberi target secara khusus. "Yang terpenting adalah bagaimana mereka semua mampu mengimbangi kekuatan tim-tim lain, terutama tim-tim Asia," katanya.

    Meski baru, ajang balap sepeda jalan raya dari Padang sampai Danau Singkarak ini telah terdaftar pada agenda Federasi Sepeda Internasional (UCI) sebagai kejuaraan kategori 2.2. Tour de Singkarak akan berlangsung pada 30 April-3 Mei 2009 dan terbagi dalam lima etape. l EZTHER LASTANIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.