Lagi-lagi Venus dan Serena di Final Wimbledon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ap| anja niedringhaus

    ap| anja niedringhaus

    TEMPO Interaktif, Wimbledon - Venus atau Serena sama saja. Bagi Richard Williams, yang menang atau pun yang kalah keduanya tetap saja anaknya. Partai puncak bagi keluarga Wimbledon adalah semifinal, karena tujuannya adalah kakak-adik Williams itu bisa menembus ke final.


    “Mimpi telah menjadi kenyataan sampai di sini (final) lagi dan peluang untuk kembali mempertahankan gelar,” ujar Venus. “Partai yang paling keras belum datang untuk menghadapi Serena (Williams).”


    serenaVenus jelas mengincar gelar keenam kalinya di Grand Slam lapangan rumput ini dan menjadi petenis pertama sejak Steffi Graf yang merenangi gelar tiga kali beruntun dari 1991-1993. Sedang, Serena mengejar gelar Grand Slam ke-11 dan gelar kedua tahun ini. Sampai kini, telah delapan partai semifinal di turnamen Grand Slam dilaluinya, sejak kalah di Prancis Terbuka 2003. Terakhir dia merebut gelar Australia Terbuka 2009.


    Bagi Venus dan Serena, pertemuan di final Grand Slam kali ini adalah pertemuan untuk kedelapan kali. Sedangkan di Wimbledon, sejarah mencatat Serena yang menjadi unggulan kedua tahun ini, mengalahkan Venus yang menjadi unggulan ketiga, di Wimbledon tahun 2002 dan 2003.


    Dalam dunia tenis putri, Richard Williams, yang menerapkan gaya tenis speed and power bagi kedua anaknya ternyata cukup berhasil. Keuatan servis dan kecepatan pengembalian bola menjadi andalan dua putrinya yang sudah mengumpulkan puluhan juta dolar dari tenis profesional ini.


    serHal ini didukung oleh postur kakak-adik Williams yang memang dominan dibandingkan petenis Rusia ataupun petenis Eropa lainnya, apalagi untuk ukuran petenis Asia. Venus, kelahiran 17 Juni 1980, memiliki tinggi 1,85 meter dan berat 73 kilogram. Sementara Serena, kelahiran 26 September 1981, memiliki postur 1,78 meter dengan berat badan 68 kilogram. Tak mudah mengembalikan servis mereka yang keras, cepat dan akurat.

     

    Terbukti, dalam partai semifinal lalu, Serena memenangi pertarungan dengan andalan servis kerasnya. Setidaknya 80 persen poin yang diperoleh dari servis As nya sebanyak 20 kali. “Kemenangan saya kali ini benar-benar dari servis saya,” aku Serena. “Satu kemenangan dramatis saya. Saya merasa seperti memiliki seluruh permainan ini.”


    Serena butuh tiga set, dalam waktu hampir dua jam untuk menundukkan Elena Dementieva 6-7 (4-7), 7-5, 8-6. Pertarungan ketat ini merupakan terlama sepanjang sejarah semifinal putri Wimbledon.


    Sedangkan Venus hanya butuh 51 menit untuk menutup mimpi unggulan pertama Dinara Safina dengan 6-1, 6-0. Venus justru diuntungkan oleh lawannya, Safina, yang banyak melakukan kesalahan sendiri. Safina, yang menjadi unggulan pertama tercatat membuat 16 kali kesalahan sendiri dari servisnya.


    BERBAGAI SUMBER| NUR HARYANTO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.