Tidak Ada Atap, Tetap Ada Tenis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • tribune.com

    tribune.com

    TEMPO Interaktif-- New York – Hujan mengguyur membasahi kawasan tenis Flushing Meadow. Di Stadion Arthur Ashe, anak-anak berkesempatan memukul-mukul bola bergantian dan bertanding. Mereka adalah petenis masa depan, calon pengganti para bintang seperti Roger Federer, Rafael Nadal ataupun Dinara Safina, Willimas Bersaudara dan lainnya. Manusia-manusia itu saat ini sedang merajai tenis di planet bumi.

    arthur

    Sayang hujan membuat kegiatan anak-anak dan pertandingan kualifikasi terhenti. Hal ini membuat panitia turnamen akbar sesi terakhir musim ini mulai memikirkan untuk membuat atap. Ya... setidaknya mengikuti jejak panitia Wimbledon yang lebih dulu mengambil inisiatif itu.


    Dalam waktu lebih dari dua dekade, Grand Slam lebih banyak membicarakan jenis lapangan –lapangan tanah liat, rumput, lapangan keras dengan permukaan khusus, plexi pave dan rebond ace. Namun kini atap juga menjadi perhatian, setelah perubahan cuaca bukan menjadi sahabat lagi dalam sebuah pertandingan.


    Ada petenis yang mempermasalahkan penundaan pertandingan karena hujan, sehingga memberi keyakinan bahwa lapangan membutuhkan atap. Namun ada pula yang menganggap itu bukan hal yang berpengaruh. "Semua Grand Slam telah digelar dalam waktu yang cukup lama tanpa atap," ujar Andy Roddick. “Dan tidak ada masalah.”

    Turnamen Australia Terbuka lapangannya telah memiliki perlindungan dengan beberapa elemen, sedangkan Wimbledon juga telah mengawali tahun ini dengan atap yang bisa dibuka-tutup. Sementara panitia Prancis Terbuka sudah mulai kasak-kusuk untuk membangun atap di Roland Garos dalam lima tahun ke depan.


    Bisa jadi Amerika Terbuka satu hari nanti akan melepaskan pegangannya yang keukeuh untuk ikut melengkapi elemen lapangan dengan atap. Dari berbagai kasus, pertandingan yang tertunda karena hujan, bisa mengubah kedudukan atau membalikkan keadaan, bagi kondisi pemain. Ada yang diuntungkan dengan penudnaan karena hujan, ada pula yang dirugikan.


    Bagaimana dengan pendapat Federer? "Apakah itu perlu? Mungkin tidak. Aku tidak tahu," kata Federer. "Dengan atap Anda dapat membuat lebih bisa diprediksi untuk para penggemar, sponsor, TV, pemain. Itu sebabnya, atap adalah hal yang baik untuk dimiliki.”


    Federer mencontohkan adanya kemajuan di stadion-stadion di Amerika Utara yang telah menciptakan berbagai kubah. "Di Amerika, kita mempunyai begitu banyak stadion indah, wajar kalau mereka akan memimpin (prestasi) dengan sesuatu seperti ini," kata Federer.

    Berbeda dengan Serena Williams. Juara bertahan Amerika Terbuka ini menganggap Stadion Ashe lebih baik tanpa atap. Dia tak mengharapkan stadion yang indah itu harus ditutupi.

    "Sulit untuk menambah atap di stadion luar biasa ini, jadi saya pikir ini sudah cukup baik," katanya. "Secara historis kita sudah bekerja dengan baik. Akan terlihat aneh untuk menaruh atap di Stadion Arthur Ashe."

    Andy Murray memberikan ide lain. Petenis Inggris yang baru saja meloncat ke peringkat dua dunia ini mengaku tidak keberatan jika digunakan terpal raksasa yang dapat ditarik keluar untuk menutupi lapangan saat hujan tiba-tiba mengguyur lapangan. Dengan terpal itu akan menjaga lapangan akan tetap kering.

    ashe

    "Mungkin bukan atap. Mungkin selimut. Aku pernah melihat beberapa kali ketika hujan turun di mana mereka seperti memiliki 100 orang keluar di lapangan dengan handuk pengering mereka," kata Murray.

    "Saya pikir mereka bisa melakukannya dengan investasi dengan beberapa penutup atau hal-hal lain yang bisa menjaga lapangan tetap kering. Saya tidak berpikir benar-benar dibutuhkan sebuah atap. Hanya biasanya beberapa hari selama turnamen ada saat cuaca memang buruk.”

    Bagi petenis putri nomor 1 dunia, Dinara Safina dari Rusia, mengaku bahwa memang ada sesuatu yang hilang jika terjadi penundaan karena hujan. "Itu membuat sesuatu yang istimewa. Anda duduk di tempat pemain dan Anda menunggu," katanya. "Kalau di sini (Amerika Terbuka), tidak sering hujan jadi saya pikir mereka tidak harus mengubah apa pun."



    USOPEN.ORG| BERBAGAI SUMBER| NUR HARYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.