Louis Van Gaal: Si Arogan Penuh Warna  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Louis Van Gaal. AP Photo/Laurent Cipriani

    Louis Van Gaal. AP Photo/Laurent Cipriani

    TEMPO Interaktif, Munich - Jangan pernah singgung nama Louis Van Gaal pada Juan Roman Riquelme. Gelandang Argentina terusir dari Barcelona ketika Louis van Gaal menjadi pelatih.

    "Dia satu dari sedikit orang yang mengatakan hal-hal langsung ke wajah Anda," kata Riquelme mengenai pelatih Belanda itu.

    Riquelme memang tak mendapat tempat ketika Van Gaal memerintah di Nou Camp (2002-2003). Riquelme juga akhirnya hanya satu musim itu juga berada di Barcelona sebelum hengkang ke Villarreal.

    "Pada hari pertama, dia duduk dengan saya di meja, dia mengatakan bahwa presiden (Barcelona) meminta saya, bukan dia. Jelas dia tidak menginginkan saya. Tapi saya lebih suka orang yang seperti ini. Dia jujur dan saya belajar dari pengalaman ini," tambah pemain yang kini memperkuat Boca Juniors itu.

    Van Gaal, yang memastikan Bayern merebut gelar Bundesliga, Sabtu kemarin, setelah menang 3-1 atas VfL Bochum, adalah salah satu pelatih yang penuh warna. Pernah ia memasuki seorang wartawan Spanyol karena memberitakan dirinya bertengkar dengan playmaker Brasil Rivaldo. Namun suasana konferensi pers bisa dipenuhi tawa jika perasaan Van Gaal tengah senang.

    Riquelme dan Rivaldo adalah dua nama bintang yang justru terpuruk di bawah Van Gaal. Jika boleh menambah satu nama lain adalah pemain Italia Luca Toni di Bayern.

    Namun, Van Gaal juga pelatih yang memiliki bakal menaikkan pemain muda berbakat.

    Ketika ia memenangkan Liga Champions pada 1995, Ajax Amsterdam dipenuhi pemain-pemain muda. Ia menaruh kepercayaan pada Carlos Puyol muda ketika menangani Barcelona. Dan di Bayern, dia memunculkan nama Thomas Mueller.

    Pemain 20 tahun itu menutup musim ini dengan hattrik ke gawang Bochum. Hattrik yang memastikan Bayern meraih gelar juara Bundesliga dan tak terkejar lagi oleh Schalke 04.

    Ketika Bayern menyelesaikan musim ini dengan menghadapi Hertha Berlin, pekan depan, Van Gaal menasbihkan dirinya sebagai pelatih yang memenangkan gelar liga dengan empat klub berbeda di tiga negara setelah Ajax Amstardam (1993-94, 1994-95, 1995-96), AZ Alkmaar (2008-09) di Belanda dan Barcelona (1997-98, 1998-99).

    "Bagi saya ini adalah prestasi yang sangat besar," katanya. "Saya tidak berpikir banyak pelatih di Eropa memiliki keberuntungan menjadi juara di tiga negara, saya salah satunya. Saya melakukannya di negara-negara sepakbola yang sangat baik dan saya sangat bangga. Mungkin sekarang saya harus mencari negara lain."

    Ia juga memiliki kesempatan menjadi pelatih ketiga yang memenangkan Liga Champions dengan dua klub berbeda. Bayern akan bertemu Inter Milan di Madrid pada 22 Juni mendatang.

    Meski kadang-kadang dituding sombong, Van Gaal menolak menerima kredit dari para pemain muda.

    "Saya pikir kredit harus diberikan pada asisten saya. Saya pelatih dan para pemain sudah mencatatkan namanya sendiri," katanya.

    REUTERS | RAJU FEBRIAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.