Doni Tata Siap Balap di FIM Asia Grand Prix  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Doni Tata Pradita

    Doni Tata Pradita

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Setelah menghabiskan waktunya di Jerman dan Perancis sejak  2008 hingga 2009, kini Doni Tata Pradita (19), pembalap motor Indonesia, istirahat di Yogyakarta. Meski begitu, sejak pulang kampung pada Januari lalu, Doni tengah  menyiapkan diri untuk terjun dalam kejuaraan balap motor FIM Asia Grand Prix di Jepang kelas 600 cc super sport pada 21-22 Mei mendatang. 

    Maka, Doni harus mondar mandir Malaysia-Eropa untuk latihan. Alasannya, sirkuit balap motor di Indonesia belum memenuhi standar untuk kejuaraan lomba balap kelas 600 cc. “Saya latihan di Sirkuit Sepang Malaysia dan sirkuit Mangicourse Perancis dan sirkuit Valencio Spanyol untuk persiapan ke Grand Prix 600 cc di Jepang,” kata Doni kepada Tempo ketika ditemui di Yogyakarta, Ahad, (16/5).

    Karena mondar mandiri di tiga negara itu, Doni mengakui persiapannya ikut berlaga kali ini agak kurang. Apalagi, kata Doni, dirinya mesti beradaptasi dengan ban kelas 600 cc. Kalau dalam kejuaraan sebelumnya dia menggunakan ban balap Pirally, dalam  kejuaraan di Jepang nanti, dirinya akan menggunakan Dunlop. “Mesti adaptasi dengan perubahan ban ini,” katanya.

    Meski begitu, dia menargetkan bisa masuk podium tiga besar. “Syukur-syukur bisa juara satu,” kata Doni yang akan menggunakan moto Yamaha R 6 600 cc. Untuk perlombaan ini, dia mengaku saingan terberatnya Jepang, Malaysia, Australia, dan Thailand.

    Sebagai pembalap motor, prestasi tertinggi yang dicapai pria kelahiran Yogyakarta, 21 Januari 1991 ini masuk 11 besar dari 30 pembalap dunia untuk kejuaraan dunia World Super Sport tahun lalu. Rencananya, Doni akan bertolak ke Jepang, besok, (17/5). "Doakan saya menang ya," katanya. 

    BERNADA RURIT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.