Si Pesolek Memburu Gelar Juara Dunia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dewi Safitri. TEMPO/Subekti

    Dewi Safitri. TEMPO/Subekti

    TEMPO Interaktif, Jakarta -
    Usai upacara pengukuhan Kontingen Indonesia ke Youth Olympic Games 2010 di Singapura pekan ini Selasa lalu di Gedung Direksi Gelora Bung Karno, Senayan, Dewi Safitri menjadi salah satu incaran juru warta. Lifter remaja asal Bekasi ini diserbu pertanyaan dari berbagai penjuru.

    Dikerumuni wartawan, membuat lifter berusia 17 tahun ini bangga akan dirinya sendiri. Fase hidup seperti ini tidak mungkin dialaminya, bila ia bukanlah lifter berprestasi dan akan turun di kelas 53 kilogram pada olimpiade remaja Singapura, 14-26 Agustus ini. “Saya menjadi seperti sekarang, karena angkat besi,” kata gadis belia yang menekuni angkat besi sejak tujuh tahun lalu.

    Pencapaian prestasi Dewi di dunia angkat besi tidak luput dari besutan mantan lifter nasional, Sodikin dan istrinya, Ni Made Widiani. Dewi rutin berlatih dengan mereka sejak usia 11 tahun. Suami-istri itu memang membina atlet muda secara serius melalui sasananya di Bekasi. Ada puluhan atlet muda yang berlatih di sana.

    Niat Dewi menjadi lifter berasal dari dirinya sendiri. Kakaknya, Nur Hasan, yang menjadi lifter lebih dulu, menjadi pelecutnya. “Saat Hasan menjadi juara kedua di Kejuaraan Porda Jawa Barat di Indramayu tahun 2003, ia membawa pulang banyak uang. Itu membuat saya bertekat menjadi lifter agar bisa menyenangkan orang tua,” kata anak keenam dari pasangan Acef dan Saroh ini.

    Pada awalnya, Dewi hanya diijinkan berlatih dengan batangan kayu. Setelah menguasai teknik, barulah ia berlatih mengangkat batangan besi. Mulai dari besi seberat besi seberat12 kilogram, meningkat menjadi 15 kilogram, dan terus meningkat. Sekarang, gadis dengan berat tubuh 52 kilogram ini bisa mengangkat 105 kilogram.

    Selama menekuni angkat besi, Dewi kadang sempat ingin berhenti karena tangannya sakit-sakit dan badannya pegal-pegal setiap latihan. Tetapi, pikiran itu bisa ditepis setiap ia melihat sosok pelatihnya, Sodikin. “Bapak (Sodikin) selalu bisa membangkitkan semangat saya,” kata Dewi yang kelak ingin seperti Sodikin menjadi lifter juara dunia.

    Dewi memang sangat mengagumi Sodikin. Menurutnya, peraih emas SEA Games lima kali itu bisa hidup mapan mempunyai rumah mewah, dan pekerjaan bagus, berkat angkat besi. Itu membuatnya termotivasi. “Walaupun tangan sakit, badan pegal-pegal, saya akan tetap bela-belain bertahan agar bisa menyenangkan keluarga,” kata gadis kelahiran Bekasi, 10 Oktober 1993 ini. Ia mengaku mendapat dukungan total dari keluarganya.

    Gadis belia ini yang berasal dari keluarga sederhana ini yakin bisa mempunyai masa dengan lebih baik dengan menjadi atlet angkat besi. Menjalani kehidupan sebagai lifter sudah menjadi kemantapan jiwanya. Ia bercita-cita, kelak bisa menjadi atlet yang mempunyai prestasi dunia. “Dari kecil, setiap menuliskan cita-cita, pasti saya menulis ingin menjadi atlet juara dunia,” kata gadis yang mengidolakan lifter seniornya, Eko Yuli Irawan.

    Walaupun masih remaja, Dewi sudah sering dikirim ke kejuaraan nasional maupun internasional. Ini membuatnya senang karena secara tidak langsung bisa mengenal kota lain di dalam negeri dan manca negara. Apabila tidak menjadi atlet angkat besi, Dewi mengira tidak mungkin ia bisa mendapatkan fasilitas itu.

    Berbagai kemudahan dan fasilitas yang didapatnya melalui angkat besi, membuatnya ia fokus ingin terus berlatih menjadi lebih baik. Bahkan, ia rela tidak melanjutkan sekolah SMA agar konsentrasinya tidak terpecah. “Kalau sekolah, saya pasti akan ikut-ikutan teman sekolah yang banyak jalan. Itu tidak baik bagi atlet angkat besi,” katanya. Tetapi, ia bertekat akan melanjutkan sekolah, nanti. “Harus selesai SMA.”

    Sebagai lifter yang setiap hari bergelut dengan besi dan debu, Dewi mengaku harus rajin mencuci muka. Bahkan, ia memakai obat jerawat agar muka putihnya tetap bersih dan bebas jerawat. Tidak hanya muka, jari-jari tangannya pun tidak luput dari perhatiannya. “Walaupun atlet angkat besi harus tetap memperhatikan penampilan,” katanya. Ia merasa penampilan itu berpengaruh meningkatkan kepercayaan diri saat bertanding. RINA WIDIASTUTI

    DATA DIRI
    Nama: Dewi Safitri
    Lahir: Bekasi, 10 Februari 1993
    Alamat: Jalan Wijaya Kusuma 2, Kampung Dua, Cikunir, RT 04/RW15, Bekasi.

    Berat dan tinggi: 52 kilogram/153 centimeter.
    Hobi: Berenang dan jalan-jalan
    Cita-cita: Ingin menjadi juara dunia

    Riwayat pendidikan:
    SD Al-Falah, Bekasi, 2000-2006
    SMP 07 Bekasi, 2006-2009

    Orang Tua: Acef (Ayah), Saroh (Ibu)
    Saudara: 1. Muhammad Masda; 2. Muhammad Yusuf; 3. Muhammad Wandi; 4. Nur Hasan; 5. Nur Aliah; 6. Dewi Safitri; 7. Desi Amelia; 8. Vita Lokasari

    Prestasi:
    Emas di Kejuaraan Nasional Remaja di Kalimantan Timur sekaligus menjadi lifter putri terbaik di kejuaraan itu, 2007
    Peringkat ketujuh dunia pada Kejuaraan Dunia tingkat remaja di Chiang May 2008
    Emas di Kejuaraan Asia Remaja di Dubai, 2009
    Perunggu di Kejuaraan Asia Remaja di Uzbekistan, 2009


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?