Porsi Pembinaan Atlet Usia Dini Masih Kurang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Atlet remaja Indonesia belum bisa bersaing di kejuaraan internasional. Ini terbukti dari perolehan medali di Kejuaraan Youth Olympic Games 2010 yang digelar di Singapura pada 14-26 Agustus. Dari empat belas atlet yang dikirim ke sana, hanya satu perungu yang bisa dibawa pulang ke tanah air.

    “Kami prihatin dengan hasil ini. Tapi saya sebelumnya sudah memprediksi hasil yang kita capai tidak akan berbeda dengan apa yang telah dihasilkan di Asian Youth Games, hanya mendapat 1 perunggu dari voli pantai putra,” kata Rita Subowo, Ketua Komite Olimpiade Indonesia, Ahad (22/8).

    Prestasi ini sudah seharusnya menjadi evaluasi. Karena di bandingkan dengan negara tetangga Thailand, Indonesia tertinggal jauh. Negeri Gajah Putih itu berhasil menggondol tiga emas dari tiga dan tiga perak dari tiga puluh lima atlet yang lolos kualifikasi. Vietnam juga bisa menggondol satu emas.

    Ade Lukman, Komisi Atlet Kumite Olimpiade Indonesia, menyatakan hasil yang dicapai kontingen Indonesia di YOG 2010 Singapura menggambarkan masih kurangnya pembinaan atlet remaja di Tanah Air.

    Pembinaan atlet di Indonesia, kata Ade, selama ini lebih banyak memprioritaskan pada atlet-atlet senior yang sudah jadi. “Inilah potret atlet tingkat remaja kita. Pembinaan atlet remaja kita kurang karena pengurus cabang olahraga selama ini masih fokusnya di tingkat senior,” kata Ade melalui sambungan telpon, Ahad (22/8).

    Dari hasil Singapura ini, kata Ade, kita harus mengubah program kerja pembinaan usia dini menyesuaikan dengan multievent tingkat internasional. Selain YOG, juga ada Asian Games tingkat remaja. “Kita harus mempersiapkannya mulai dari persiapan untuk kualifikasinya,” kata Ade.

    Ade berencana akan mengusulkan kejuaraan multievent nasional untuk tingkat junior semacam Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja. Formulasinya, lanjut Ade, mungkin bisa digabungkan dengan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) yang sudah ada. “Mungkin bisa bersinergi dengan kejuaraan itu,” katanya.

    Apabila ada PON remaja, Ade yakin cabang-cabang olahraga akan terpacu membina atlet usia dini seperti membina atlet seniornya. Selama ini, hanya beberapa cabang olahraga tertentu saja yang mengadakan Kejuaraan Nasional tingkat remaja dan junior.

    RINA WDIASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.