Tangisan Elena Dementieva

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis asal Rusia Elena Dementieva mencium piala, setelah mengalahkan rekan senegaranya Maria Sharapova, dalam final Piala Rogers, di Toronto, Kanada (24/8). Elena menang 6-4, 6-3. Foto: REUTERS/Mark Blinch

    Petenis asal Rusia Elena Dementieva mencium piala, setelah mengalahkan rekan senegaranya Maria Sharapova, dalam final Piala Rogers, di Toronto, Kanada (24/8). Elena menang 6-4, 6-3. Foto: REUTERS/Mark Blinch

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Lagi-lagi Elena Dementieva menangis setelah menghadapi perlawanan petenis Italia, Francesca Schiavone, di lapangan. Tangis itu tak dapat dibendung saat dia memberikan sambutan setelah kalah 6-4, 6-2 oleh Schiavone di babak penyisihan turnamen WTA Tour Championship di Doha, Qatar, kemarin dinihari.

    Juni lalu, Dementieva meninggalkan lapangan pada turnamen Prancis Terbuka sambil menunduk, menyembunyikan air matanya setelah memutuskan tidak melanjutkan pertandingan di babak semifinal melawan Schiavone--yang saat itu keluar sebagai juara. Bukan cedera di betisnya yang tak mampu membendung air mata itu. Dementieva seperti menyadari bahwa kesempatan untuk menggaet gelar juara grand slam tak akan lagi bisa direngkuhnya.

    Dan, empat bulan berselang, Dementieva berpamitan kepada semua orang, terutama yang menyaksikan pertandingannya melawan Schiavone. Dementieva, yang lahir di Moskow, 15 Oktober 1981, memutuskan berhenti mengejar gelar grand slam yang belum pernah diraihnya selama 12 tahun berjuang. "Sulit sekali mengucapkan perpisahan. Aku akan sangat merindukan kalian semua," katanya. Meski begitu, Dementieva tetap menjadi pemain terbaik sama seperti Pam Shriver, Helena Sukova, dan Mary Joe Fernandez.

    Setidaknya sudah ada 16 gelar juara WTA Tour yang menjadi milik Dementieva. Satu gelar yang paling membanggakan adalah meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Kala itu, Dementieva mengalahkan petenis Amerika Serikat, Serena Williams, serta dua rekan senegaranya, Vera Zvonareva dan Dinara Safina. Hasil itu menjadi momentum tersendiri bagi perkembangan tenis di Rusia.

    Dementieva juga menjadi bagian dari pertandingan final sesama petenis Rusia dalam turnamen grand slam pada 2004. Dia bertemu dengan Anastasia Myskina di final Prancis Terbuka, dan selanjutnya bertemu dengan Svetlana Kuznetsova di final AS Terbuka. Itu merupakan hasil terbaik yang diperoleh Dementieva saat berlaga dalam 46 pertandingan grand slam.

    Tak hanya berhenti di situ, Dementieva juga sukses membawa negaranya meraih gelar juara turnamen tenis beregu Fed Cup pada 2005. Dengan catatan semacam itu, Dementieva hampir tidak pernah terlempar dari peringkat 20 besar sejak April 2003. Dementieva juga mencatatkan dirinya sebagai petenis yang mengakhiri musim pertandingan dalam 10 peringkat teratas sebanyak tujuh kali dalam delapan tahun.

    "Saya enggan menanti sampai peringkat saya jatuh, dan sampai-sampai membuat saya tak bisa masuk babak utama. Saya selalu ingin meninggalkan olahraga ini dengan semangat tinggi yang selalu saya tunjukkan," ujar petenis berambut pirang itu. Dan, pertimbangan untuk gantung raket itu sebenarnya sudah muncul di benak Dementieva sejak awal tahun ini.

    Bahkan sanak keluarga sempat membujuk Dementieva untuk bertahan dua tahun lagi. "Mereka (keluarga) sangat terkejut. Saya pikir tidak ada yang menyukai keputusan ini selain pacar saya," katanya. Ia memang mulai berpikir untuk mendapatkan perubahan besar dalam perjalanan hidupnya.

    Pada tahun ini, Dementieva bertengger di peringkat kesembilan dunia setelah sempat meraih peringkat tertinggi, yaitu peringkat ketiga, tahun lalu. Meski harus berjuang dengan cedera pada lutut, betis, dan pergelangan kakinya, Dementieva tetap bisa memenangi dua turnamen dan lolos ke WTA Championships ke-10 kalinya. "Dia adalah panutan saya. Kariernya luar biasa. Saat ini negara akan sangat bersedih dan semua orang akan mendukungnya," kata rekan senegara Dementieva, Vera Zvonareva.

    Pandangan serupa disampaikan oleh petenis Belgia, Kim Clijster. "Saya bertumbuh bersamanya sejak kami masih junior. Sangat menyenangkan melihat dia berencana mencari sesuatu yang baru untuk hidupnya. Dia adalah petenis yang paling baik di lapangan," ujar Clijster sambil menahan tangis.


    AP | EZTHER LASTANIA


    Hal-hal yang Perlu Diingat Mengenai Dementieva


    1. Menjadi petenis yang bertahan di 20 besar selama 11 tahun berturut-turut.
    2. Menjadi petenis yang menutup musim dalam 10 besar sebanyak tujuh kali dalam delapan tahun.
    3. Bisa bermain dalam segala jenis lapangan, dan dibuktikan dengan meraup kemenangan di lapangan tanah liat, lapangan keras, serta lapangan indoor. Dia juga pernah mencapai babak final turnamen yang digelar di lapangan rumput.
    4. Menjadi petenis Rusia yang menciptakan final sesama petenis Rusia pada 2004, yaitu pada Prancis Terbuka dan AS Terbuka.
    5. Menjadi petenis yang bermain dalam turnamen grand slam sebanyak 46 kali.
    6. Meraih medali emas Olimpiade Beijing 2008. Ini merupakan perbaikan dari hasil sebelumnya di Olimpiade Sydney 2000. Saat itu dia meraih medali perak.
    7. Meraih WTA Sportsmanship Award pada 2008.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?