Kamis, 18 Oktober 2018

Praveen Jordan, Permata Baru Badminton Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet badminton nasional Praveen Jordan. TEMPO/Vishnu Juwono

    Atlet badminton nasional Praveen Jordan. TEMPO/Vishnu Juwono

    TEMPO.CO , Jakarta:Setelah kariernya sebagai pemain bulu tangkis sempat terancam berakhir pada awal tahun lalu, Praveen Jordan akhirnya bisa terpilih masuk pemusatan latihan nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia di Cipayung, Jakarta Timur.  


    Pada awal tahun ini, Praveen dipasangkan dengan Debby Susanto, mantan pasangan Muhammad Rijal, yang mundur dari pelatnas. Tiga pekan berlatih, pasangan ganda campuran ini dipercaya untuk mengikuti turnamen Superseries Premier Malaysia Terbuka.

    Dalam turnamen pertama yang mereka ikuti itu, Praveen/Debby tampil bagus dengan mengalahkan unggulan keenam dari tuan rumah, Peng Soon Chan/Liu Ying Goh. Mereka maju ke babak perempat final dan  dikalahkan oleh unggulan ketiga asal Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christina Pedersen.

    Sebagai atlet yang baru masuk pelatnas, langsung menembus perempat final turnamen bergengsi adalah awal yang bagus. Pemuda kelahiran Bontang, Kalimantan Timur, 26 April 1993, ini pun memiliki mimpi yang tinggi, yaitu menjadi juara Olimpiade. “Dari dulu, saya ingin bisa menjadi juara Olimpiade. Saya akan melakukan yang terbaik di pelatnas,” kata Praveen di Jakarta, Rabu lalu.

    Target besar itu bukan tidak mungkin tercapai. Kepala pelatih ganda campuran PBSI, Richard Mainaky, mengatakan Praveen memiliki pukulan bola-bola atas yang mematikan. Kemampuan itu, kata Richard, penting untuk dimiliki seorang pemain ganda.

    Richard juga mengatakan Praveen memiliki karisma juara yang hampir sama dengan seniornya, Tontowi Ahmad. Perjalanan mulus Praveen pada awal tahun ini bisa menjadi bukti awal keyakinan Richard.

    Mantan pemain ganda campuran yang kini menjadi pelatih di PBSI, Nova Widianto, juga melihat Praveen sebagai sosok potensial. “Praveen memiliki pukulan-pukulan istimewa. Sekali-dua kali pukul, pasti lawan mati,” kata juara dunia pada 2005 dan 2007 itu, sebagaimana dikutip situs resmi PBSI. Hanya, Praveen masih sering kehilangan fokus. Hal inilah yang perlu diperbaiki.

    Praveen mengatakan kecocokannya dengan Debby masih perlu diasah. “Masih kurang,” kata anak sulung ini. “Kami harus lebih banyak berkomunikasi supaya lebih maksimal.”

    Pada awal tahun lalu, nasib Praveen sebenarnya berada di ujung tanduk. Sebab, ia tidak dipanggil masuk pelatnas seperti teman-teman seklubnya. Padahal, ia sudah memasuki usia dewasa menurut kategori klub PB Djarum. Klub ini punya kebijakan hanya akan membina atlet sampai usia 19 tahun.

    Bergabung di PB Djarum pada 2008, pemuda yang memutuskan menjadi atlet lantaran malas menjalani pendidikan formal ini menjadi juara ganda putra dalam Sirkuit Nasional (Sirnas) Jawa Barat 2010. Ia juga dikirim ke Singapore International Series 2010.

    Sayangnya, pada 2011, Praveen hanya mampu menembus babak semifinal di beberapa seri Sirnas. Pada 2012, hanya satu gelar juara yang diraihnya, yaitu Sirnas Jawa Timur untuk ganda dewasa putra.

    Namun, Ketua PB Djarum Yoppy Rosimin mengatakan mereka tetap bersabar dalam membina Praveen. Pada 2012, Vita Marissa, pemain putri  senior, datang ke klub ini untuk mencari pasangan di ganda campuran.

    Yoppy kemudian memberi kebebasan kepada Vita untuk memilih pemain. Akhirnya, Praveen-lah yang dipilih karena memiliki pukulan smes yang bagus. Sejak itulah prestasinya kembali menanjak. Bersama Vita, ia merebut tiga gelar juara turnamen internasional tahun lalu.


    GADI MAKITAN


    Berita Lain
    Irfan Bachdim Resmi Gabung Klub Jepang 
    Arthur Irawan Bergabung ke Malaga
    Juan Mata Siap Bermain di Posisi Mana pun 
    Juan Mata Kaget Dijual Chelsea ke MU
    Tekuk Stoke, Chelsea ke Putaran Kelima Piala FA
    Inter Masih tanpa Kemenangan di 2014




     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Kode-Kode Rahasia Izin Meikarta dan Besar Suap yang Mengalir

    Inilah oknum-oknum yang diduga menerima suap izin Meikarta dan kode-kode yang diduga digunakan untuk menyamarkan permufakatan ilegal itu.