Kobe Bryant: Pemain Eropa Lebih Jago

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Los Angeles Lakers Kobe Bryant melewati hadangan pemain Indiana Pacers saat pertandingan NBA di Bankers Life Fieldhouse, Indianapolis, 15 Desember 2014. Dengan perolehan 32.310 poin, Bryant kini berada di posisi tiga pencetak poin terbanyak di NBA. Ron Hoskins/NBAE via Getty Images

    Pemain Los Angeles Lakers Kobe Bryant melewati hadangan pemain Indiana Pacers saat pertandingan NBA di Bankers Life Fieldhouse, Indianapolis, 15 Desember 2014. Dengan perolehan 32.310 poin, Bryant kini berada di posisi tiga pencetak poin terbanyak di NBA. Ron Hoskins/NBAE via Getty Images

    TEMPO.CO, Los Angeles - Kobe Bryant, bintang Los Angeles Lakers, mengatakan para pemain Eropa lebih jago jika dibandingkan dengan pemain basket Amerika. Menurut Bryant, para pemain dari Eropa sudah belajar teknik bermain basket yang benar sejak usia dini. Teknik bermain yang diasah para pemain Eropa sejak kecil, kata Bryant, jauh lebih baik dibanding metode yang diterapkan Persatuan Atlet Amatir Amerika Serikat (AAU).

    Seperti ditulis laman ESPN, 3 Januari 2014, Bryant menyebutkan kemampuan para pemain basket Eropa lebih baik daripada pemain Amerika. "Mereka jelas lebih jago. Mereka diajari bermain dan bertanding yang benar sejak kecil, dan itu adalah hal yang harus kita perbaiki di sini," kata Bryant setelah Lakers kalah melawan Memphis Grizzlies 109-106, Jumat pekan lalu.

    Bryant mengecam AAU yang dinilai tidak becus membimbing anak-anak tentang cara bermain basket yang benar. "AAU itu sangat parah. Mereka tidak mengajari anak-anak bermain basket sama sekali," kata pemain berusia 36 tahun itu. "Kita cuma punya pemain yang tinggi besar tapi tidak tahu bagaimana harus bermain, tidak tahu dasar pertandingan. Itu hal yang bodoh."

    Gaya Bryant bermain basket dipengaruhi gaya Eropa. Pria kelahiran Philadelphia pada 1978 itu pindah ke Italia pada usia enam, mengikuti ayahnya, Joe Bryant, mantan pemain NBA yang memutuskan berkarier di Eropa. Bryant menghabiskan masa kecilnya di Eropa hingga ayahnya pensiun bermain pada 1991. "Dalam kondisi serba terbatas, Anda justru bisa semakin baik," katanya. (Baca: Kobe Bryant Patahkan Rekor Poin Michael Jordan)

    Bryant mengaku tak akan bisa bermain seperti sekarang jika dulu dia tak pindah ke Italia dan bertanding dengan para pemain Eropa. "Aku mungkin tidak bisa mengolah bola atau menembak dengan tangan kiri, footwork-ku juga bisa jadi buruk," katanya. Bryant mengaku beruntung ada pelatih-pelatih hebat seperti Red Auerbachs dan Tex Winters yang datang memberikan pelatihan ke klub-klub di Eropa. "Para pelatih mengikuti metode mereka dan kemudian mengajari kami," katanya.

    Bryant mengatakan pemain Eropa memahami keterbatasan mereka dan berusaha mengatasinya dengan cara yang tepat. Sedangkan pemain-pemain Amerika mengalami masalah besar karena banyak yang tidak tahu dasar-dasar permainan basket. "Itulah sebabnya ada Pau dan Marc Gasol di NBA, dan itulah mengapa 90 persen pemain inti San Antonio Spurs berasal dari Eropa. Mereka lebih jago," kata Bryant, yang sudah mengumpulkan lima cincin juara NBA bersama Lakers.

    ESPN | GABRIEL WAHYU TITIYOGA

    Terpopuler:
    Risma Tak Percaya Peringatan Dini Amerika Serikat
    Ribut Rute AirAsia, Menteri Jonan di Atas Angin?
    'Jauhi Hotel dan Bank Terkait Amerika di Surabaya' 
    Jonan Bekukan Rute AirAsia, Ada Tiga Keanehan
    Munas Islah Golkar, Agus Gumiwang Menolak Maju
    Bos Air Asia: Headline Media Malaysia Ngawur 
    Ini 9 Korban Air Asia yang Telah Diidentifikasi
    PHRI Sabang:Polisi Syariat Ganggu Kenyamanan Turis

    Berita lain:
    Tinggalkan Liverpool, Ini Penyesalan Utama Gerrard
    Jamu Tamu, Phil Neville Bingung Cara Bikin Kopi
    Van Gaal, Tetangga Sepuh, dan Makanan Favorit
    Tonjolkan Bagian Intim, Patung Ronaldo Dicemooh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.