Maria Londa Jajal Kemampuan di Singapura Terbuka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet lompat jauh Indonesia Maria Natalia Londa, melakukan lompatan pada nomor Lompat Jauh Asian Games ke-17 di Incheon Asiad Main Staidium, Incheon, 29 September 2014. Maria berhasil meraih emas dengan lompatan 6,55 m. AP/Lee Jin-man

    Atlet lompat jauh Indonesia Maria Natalia Londa, melakukan lompatan pada nomor Lompat Jauh Asian Games ke-17 di Incheon Asiad Main Staidium, Incheon, 29 September 2014. Maria berhasil meraih emas dengan lompatan 6,55 m. AP/Lee Jin-man

    TEMPO.COJakarta - Atlet lompat jauh nasional, Maria Londa, bersiap mengikuti kejuaraan Singapura Terbuka pada Maret 2015 sebagai persiapan menjelang SEA Games Singapura pada Juni 2015.

    "Sebelum turun di SEA Games, tentunya saya membutuhkan kesempatan uji coba agar pada saatnya bisa benar-benar tampil maksimal," kata Maria, yang dihubungi Antara dari Palembang, Rabu, 11 Februari 2015.

    Ia mengatakan Singapura Terbuka relatif bisa dijadikan tolok ukur penampilannya. Sebab, peserta SEA Games 2015 lain dipastikan juga ambil bagian lantaran Singapura Terbuka adalah satu-satunya kompetisi menjelang pelaksanaan SEA Games.

    "Atlet Thailand, Filipina, Malaysia, dan tentunya Singapura akan ambil bagian," ujar gadis asal Bali ini.

    Maria menjadi tumpuan Indonesia dalam kompetisi olahraga paling bergengsi di kawasan ASEAN tersebut.

    Keberhasilannya meraih medali emas pada Asian Games di Incheon, September 2014, menjadi garansi bahwa kualitasnya berada di atas rata-rata atlet kawasan Asia Tenggara.

    "Saya tidak boleh lengah karena pesaing saya juga berusaha merebut, karena sejatinya mempertahankan itu lebih sulit. Saya menargetkan bisa membukukan lompatan 6,70 meter, karena atlet-atlet di Asia bermodalkan lompatan sejauh itu," kata Maria.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.