Tinju Presiden Cup: Peserta Melimpah, Dana Seret

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Ramdani

    TEMPO/ Ramdani

    TEMPO.CO , Jakarta: Kejuaraan tinju internasional Presiden Cup yang rencananya akan digelar di Palembang, Sumatera Selatan, pada April mendatang hingga saat ini masih terkendala dana. Sekretaris Jenderal Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina), Martinez Dos Santos, mengatakan pihaknya saat ini masih mencari kekurangan dana untuk menutupi ajang tinju amatir tersebut.

    "Kebutuhan dana untuk Presiden Cup 2015 mencapai Rp 7 miliar. Sebelumnya pemerintah hanya akan memberi Rp 800 juta dan katanya akan ditambah. Tapi kekurangannya masih sangat besar," kata Martinez saat ditemui di kantor PB Pertina, Senayan, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2015.

    Menurut Martinez, sudah ada 25 negara yang dipastikan ikut dalam kejuaraan yang digelar sejak 1976 tersebut. Dia mengatakan, kejuaraan ini tidak mungkin ditunda karena akan memberikan citra buruk bagi Indonesia. "Tadinya kami targetkan hanya 20 negara, tapi ternyata lebih banyak sehingga kami cepat tutup pendaftaran pada 15 Februari 2015. Kejuaraan ini harus dilaksanakan karena sudah lama absen," ujarnya.

    Di antara negara peserta yang menyatakan ikut adalah Australia, Filipina, Hong Kong, India, Malaysia, Mesir, Myanmar, Srilanka, Thailand, Nepal, dan Jepang. Indonesia akan menyertakan 3 tim dengan total 36 petinju, termasuk dua petinju andalan untuk SEA Games mendatang, Kornelius Kwangu dan Julio Bria. Indonesia terakhir kali menggelar kejuaraan tinju Presiden Cup pada 2011.

    Kejuaraan ini ditunggu-tunggu karena menjadi ajang asah diri para petinju Tanah Air. Persoalan dana untuk menggelar Presiden Cup juga pernah terjadi pada 2001 lalu. Saat itu, ajang tinju ini dibatalkan karena masalah faktor keamanan, keuangan, dan persiapan.

    Martinez mengatakan, besarnya dana yang dibutuhkan untuk menggelar Presiden Cup karena Indonesia sebagai tuan rumah harus menyediakan berbagai kebutuhan peserta seperti akomodasi penginapan, dan transportasi. Selain itu, panitia juga harus mendatangkan wasit, hakim, dan ITO dari luar negeri.

    Untuk menyiasati kekurangan dana, Martinez mengaku akan mencoba meminta audiensi kepada Presiden Joko Widodo dan mengundang sponsor untuk ikut membiayai kejuaraan ini. "Kami juga mencoba meminta Badan Usaha Milik Negara untuk memberikan bantuan melalui dana Corporate Social Rensponsibility," katanya.

    Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Djoko Pekik Irianto, mengakui jika pemerintah tidak bisa memberikan bantuan penuh untuk penyelenggaraan Presiden Cup. "Kami ada anggaran fasilitasi untuk kejurnas dan menggelar kejuaraan internasional. Tapi tidak untuk satu cabang olahraga saja, untuk semuanya,"  kata Djoko. Djoko tidak mau merinci berapa anggaran fasilitasi yang dimiliki Kemenpora. Namun dia memastikan anggaran itu bisa untuk membantu seluruh pengurus cabang olahraga.

    Untuk bantuan kepada Pertina, Djoko mengatakan kementeriannya belum memastikan berapa yang bisa diberikan. Namun, jika panitia penyelenggara bisa memastikan soal penggunaan dan pertanggungjawabannya, Kemenpora bisa memberikan bantuan hingga Rp 1,5 miliar.  "Itu masih memungkinkan, bahkan lebih sedikit sangat bisa," ujarnya. Djoko mengatakan pihaknya juga sudah bertemu dengan Ketua PB Pertina, Reza Ali untuk membicarakan hal tersebut.

    Djoko meminta agar para pengurus cabang olahraga bisa lebih kreatif dalam mencari sumber dana untuk menyelenggarakan kegiatan seperti sponsor dari perusahaan dan BUMN.  Jangan hanya mengandalkan APBN. Pengurus dan panitia harus bisa lebih kreatif dalam mencari sumber dana dari pihak ketiga,  ujar dia.

    ANGGA SUKMAWIJAYA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.