Cornelis Kwangu, Menari dan Menyengat di Atas Ring

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petinju Cornelis Kwangu Langu dalam sesi latihan di Kantor Persatuan tinju Amatir Indonesia (Pertina) kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, 24 Februari 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Petinju Cornelis Kwangu Langu dalam sesi latihan di Kantor Persatuan tinju Amatir Indonesia (Pertina) kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, 24 Februari 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Di atas ring, kaki Cornelis Kwangu Langu tak pernah berhenti bergerak. Ke kanan, ke kiri, lalu ke depan mendekati lawan untuk melayangkan jab. Sesekali kepalanya meliuk-liuk, kemudian mencoba memukul hook. Dalam latihan sparing di PB Pertina, Senayan, Jumat lalu, petinju kelas berat 49 kilogram ini tak pernah membiarkan kakinya berhenti bergerak untuk mengecoh.

    Lawan sparingnya, Steven Kastanya, petinju tim nasional kelas berat 52 kilogram yang berpostur lebih tinggi, memang tak kalah lincah. Pukulannya juga cukup banyak mendarat di muka Cornelis. Tapi dia terlihat kewalahan menghadapi Cornelis yang bergerak seperti penari. Waktu sparing selesai dan hakim memutuskan keduanya imbang. Steven langsung memeluk Cornelis. “Mantap,” katanya kepada Cornelis.

    Cornelis, pemuda asal Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang sekarang menetap di Bali, bisa dibilang anak baru di dunia tinju Indonesia. Dia baru naik ring pada 2009. Langkah pertamanya ikut dalam turnamen di sekitar Sumba dengan hadiah hanya Rp 250 ribu sekali duel, atau bahkan hanya berhadiah kaus. “Dulu tidak ada bayangan jika tinju akan menjadi jalan hidup saya,” kata dia.

    Ya, Cornelis memang tak pernah menggantungkan cita-citanya dalam sarung tinju. Meskipun olahraga ini sangat digandrungi di kampungnya, dia tak pernah membayangkan akan merelakan wajahnya bonyok dipukuli lawan. Awalnya, dia ingin menjadi atlet atletik atau pemain sepak bola, tapi selalu gagal dalam seleksi. “Hingga akhirnya saya bertinju karena butuh uang untuk kuliah.”

    Berasal dari keluarga tak mampu, Cornelis harus mencari cara agar cita-citanya meneruskan kuliah bisa tercapai. Bermodal menonton Chris John bertanding di layar kaca, dia mulai berlatih tinju dengan alat seadanya, dan diasuh Ardi Dao Riwu. Setelah beberapa kali bertanding di Sumba, dia kemudian hijrah ke Bali, lalu ke Banten.

    “Saya di Banten sempat menjadi juara pekan olahraga provinsi pada 2011,” ujar dia. Merasa tak berkembang, dia akhirnya balik lagi ke Bali, kemudian memutuskan kuliah di IKIP PGRI Bali. “Saya mendapat beasiswa di sana. Sekarang saya sudah mau lulus.”

    Gagal di PON 2012 sempat membuat Cornelis mutung. Tapi semangatnya kembali bangkit saat dia tiba-tiba dipanggil PB Pertina untuk bergabung di pemusatan latihan nasional persiapan SEA Games 2013 di Myanmar. “Saya kaget dan senang. Ini kesempatan yang sangat langka,” ujar dia.

    Bergabung di pelatnas membuat Cornelis bisa menginjakkan kaki di Kuba dan berduel dengan petinju-petinju dunia. “Sebelum ke pelatnas, saya hanya bertanding di Indonesia, tak pernah ke luar negeri.”

    Tak mau membuang kesempatan, dia berlatih keras. Dia menggenjot fisik setiap hari. Ketika teman-temannya bermain atau nongkrong saat latihan libur, dia malah berlatih sendirian di kawasan Senayan. Tak percuma, di SEA Games 2013 medali perak berhasil diraih. Cornelis juga berhasil menyabet medali dalam berbagai kejuaraan tinju amatir internasional. “Di Asian Games 2014 saya masuk delapan besar,” katanya.

    Tahun ini, dia kembali mendapat tugas berat: harus kembali menyabet medali dalam SEA Games 2015 pada Juni nanti di Singapura. Ada dua negara yang sangat dia diwaspadai dalam ajang olahraga negara-negara se-Asia Tenggara ini, yaitu Filipina dan Thailand. Namun Cornelis optimistis medali emas bisa dikalungkan di lehernya. “Sekarang pengalaman saya bertanding sudah cukup banyak. Tinggal kerja keras bagaimana mempertahankan mental dan fisik serta terus rajin berlatih.”

    Kepala Pelatih Pelatnas Tinju SEA Games 2015, Adi Suwandana, mengakui bahwa Cornelis menjadi salah satu anak asuhannya yang dijagokan mendapatkan medali emas di Singapura. Dia mengatakan pengalaman yang dimiliki Cornelis bisa menjadi modal untuk berkiprah lebih baik membawa harum nama bangsa. “Saya kira bisa bertanding maksimal nanti,” ujar dia.

    Meskipun terancam batal mengikuti training camp tinju di Kuba, Adi mengaku tak khawatir hal itu akan berdampak pada kesiapan timnya. Menurut dia, sekarang anak-anak asuhannya sudah lebih siap dari segi fisik dan mental untuk berduel di atas ring tinju SEA Games. “Seperti Cornelis sekarang, dia lebih siap. Kami akan maksimalkan untuk berlatih sparing di Jakarta jika batal ke Kuba,” katanya.

    Nama: Cornelis Kawangu Langu
    Lahir: Sumba NTT, 3 Agustus 1990
    Anak keenam dari tujuh bersaudara
    Ayah: Harun H. Janji
    Ibu: Trince Thana
    Domisili: Bali
    Kelas: 49 kilogram

    Prestasi:
    NTB CUP 2011: Perak
    Juara Nasional 2011
    Wapres CUP 2012: Perunggu
    Wapres CUP 2013: Emas
    Cina Taipei Cup 2013: Emas
    Kejuaraan di Kuba 2013: Emas
    SEA Games 2013 di Myanmar: Perak
    Malaysia Agung Cup 2014: Perak
    Rusia Cabaro Cup 2014: Perunggu

    ANGGA SUKMAWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?