Semen Padang Minta Kompetisi Tetap Dilanjutkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih timnas Indonesia Nil Maizar (kiri) berbincang dengan Raphael Maitimo (kanan) usai latihan di lapangan Institut Penilaian Negara , Selangor, Malaysia, Selasa (27/11). ANTARA/Prasetyo Utomo

    Pelatih timnas Indonesia Nil Maizar (kiri) berbincang dengan Raphael Maitimo (kanan) usai latihan di lapangan Institut Penilaian Negara , Selangor, Malaysia, Selasa (27/11). ANTARA/Prasetyo Utomo

    TEMPO.COPadang - Pelatih Semen Padang, Nil Maizar, mengatakan pemain dan pelatih bingung dengan dihentikannya kompetisi Liga Super Indonesia. Mereka ingin kompetisi tetap dilanjutkan.

    "Kami bingung apa yang harus kami lakukan," ujar mantan pelatih tim nasional Indonesia ini, Senin, 4 Mei 2015.

    Bagi pelatih dan pemain, menurut Nil, kompetisi harus tetap berjalan karena kehidupan mereka di sana. "Nanti makan apa? Anak-anak mau hidup. Kehidupan itu di sepak bola," katanya.

    Nil berharap para petinggi memberikan solusi terbaik untuk sepak bola Indonesia sehingga liga bisa kembali jalan dan pemain bisa mengeluarkan kemampuannya dalam kompetisi. "Kami berharap para petinggi ini tetap memberikan solusi terbaik kepada semua," tuturnya. Nil mengatakan akan mendiskusikan ini dengan manajemen, apakah tetap dilanjutkan atau latihan menunggu kompetisi Kementerian Pemuda dan Olahraga.

    Sebelumnya, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memutuskan secara resmi menghentikan semua kompetisi sepak bola musim 2015. Keputusan itu diambil dalam rapat Komite Eksekutif PSSI yang berlangsung di kantor PSSI, Senayan, Sabtu, 2 Mei 2015.

    Alasan penghentiannya lantaran Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi telah lebih dulu membekukan PSSI dan tidak menerbitkan izin kepolisian untuk menggelar semua pertandingan ISL, yang sekarang bernama Qatar National Bank League.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.