Rahasia Sukses Si Jelita Maria Sharapova: Filosofi Unik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi petenis asal Rusia Maria Sharapova, saat melaan  petenis asal Italia Flavia Pennetta (ITA) pada pertandingan BNP Paribas Open di Indian Wells Tennis Garden, 17 Maret 2015. Pennetta mengalahkan Sharapova dengan tiga set 3-6, 6-3, 6-2. REUTERS/Jayne Kamin-Oncea-USA TODAY Sports

    Ekspresi petenis asal Rusia Maria Sharapova, saat melaan petenis asal Italia Flavia Pennetta (ITA) pada pertandingan BNP Paribas Open di Indian Wells Tennis Garden, 17 Maret 2015. Pennetta mengalahkan Sharapova dengan tiga set 3-6, 6-3, 6-2. REUTERS/Jayne Kamin-Oncea-USA TODAY Sports

    TEMPO.COJakarta - Setelah gagal mempertahankan gelar juara di turnamen grand slam Prancis Terbuka, awal Juni ini petenis Rusia, Maria Sharapova, membidik kesuksesan di grand slam Wimbledon yang akan berlangsung di London, mulai 29 Juni mendatang. 

    Sharapova memiliki kenangan manis di Wimbledon. Di sana untuk pertama kalinya ia memenangi turnamen grand slam. Gelar itu direbut pada 2004, tiga tahun setelah beralih status menjadi petenis profesional. 

    "Becermin pada kemenangan itu memunculkan banyak kenangan luar biasa," kata atlet 28 tahun itu ihwal Wimbledon 2004. "Saya mendapatkan bagian yang adil dari kesuksesan itu dan juga beberapa pertandingan sulit.”

    Setelah memenangi Wimbledon, Sharapova melesat hingga bisa menduduki peringkat pertama dunia pada 22 Agustus 2005. Setelah itu, dia berhasil merebut empat gelar grand slam lainnya, yaitu Amerika Serikat Terbuka pada 2006, Australia Terbuka pada 2008, dan Prancis Terbuka pada 2012 dan 2014. 

    “Kemenangan itu membuat karier saya melonjak di usia yang sangat muda,” tutur Sharapova. “Tapi saya tidak sering mengenangnya karena saya memperlakukan setiap tahun dan setiap turnamen sebagai awal baru yang segar. Saya lebih suka membuat awal baru ketimbang melihat apa yang terjadi beberapa tahun lalu."

    Keinginan membuat sebuah awal yang baru juga merupakan sikap yang ia terapkan untuk menghadapi kekalahan babak keempat oleh Lucie Safarova di babak keempat Prancis Terbuka 2015. Alih-alih ciut, dia melihat sisi positif dari kekalahannya, yakni memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi Wimbledon. 

    "Bagus juga bisa memiliki sedikit waktu ekstra," kata Sharapova. "Saya ingin mempersiapkan diri saya, berlatih, dan tidak berpikir soal di mana saya akan berada selama empat pekan.

    "Sebagai seorang atlet, saya ingin berada di level tertinggi. Untuk ke sana, Anda tahu formulanya. Di lapangan tanah liat tahun ini, saya mulai mendapatkan ritme itu lagi ketika Roma Masters tiba. Agak susah mempertahankan ritme itu di beberapa pekan terakhir,” kata Sharapova menambahkan. “Tapi itulah yang terjadi. Sekarang saya akan kembali ke kondisi terbaik saya.”

    Sharapova mengatakan kerja keras dan menjaga kondisi adalah hal yang bisa ia lakukan sekarang. “Itu hal paling penting. Saya harus sehat, memberi kesempatan kepada diri saya untuk mempersiapkan diri. Apakah itu berarti saya akan mengikuti turnamen pemanasan atau hanya memberi hari tambahan untuk melatih fisik di atas rumput,” kata dia. "Saat Wimbledon datang, saya tahu saya akan siap.” 

    WTA TENNIS| GADI M


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.