300 Atlet Dipastikan Ikut Kejuaraan Canoe Asia di Palembang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet Canoeing Indonesia, Eka Octarorianus dan Anwar Tarra usai mengikuti final kelas Men's C2 200 di Ngalike Dam, Nay Pyi Taw, Myanmar (13/12).  Tempo/Aditia Noviansyah

    Atlet Canoeing Indonesia, Eka Octarorianus dan Anwar Tarra usai mengikuti final kelas Men's C2 200 di Ngalike Dam, Nay Pyi Taw, Myanmar (13/12). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 300 atlet dan official dari 14 negara telah mendaftar untuk mengikuti Kejuaraan Canoe Asia 2015 yang akan berlangsung di Danau Jakabaring Sport City, Palembang, 4-18 November 2015.

    Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Selatan Achmad Najib mengatakan 14 negara yang sudah mendaftar di antaranya Hong Kong, Tajikistan, Malaysia, Pakistan, Uzbekistan, Iran, Indian, Kirgistan, Korea Utara, dan Kazakstan. Dia mengatakan masih ada enam negara lain yang belum mendaftar sehingga jumlah peserta diperkirakan bisa mencapai 400 orang.

    Baca juga:
    Amel Alvi dan Gaya Cadar Mendadak Lima Perempuan di Sidang
    Seperti Film, Perampok Bersenjata Samurai Gasak Minimarket

    Menurut Najib, peserta yang berpartisipasi adalah atlet-atlet top Asia, mengingat kejuaraan ini bakal menentukan nasib mereka dalam ajang yang lebih tinggi lagi. "Ajang ini sekaligus kualifikasi Olimpiade Rio de Janeiro 2016 nanti,” kata Najib, Sabtu, 3 Oktober 2015.

    Dengan hadirnya atlet-atlet top Asia, Najib menambakan, pendayung-pendayung lokal bisa mendapatkan banyak pelajaran.

    Kendala yang masih harus diatasi, menurut Najib, adalah kabut asap. Jika masalah itu belum selesai, pertandingan akan terganggu. Tapi dia optimistis kabut asal itu akan berlalu pada November seiring datangnya musim hujan.

    Humas Komite Olahraga Nasional Indonesia Sumatera Selatan Darmansa optimistis jumlah peserta akan terus bertambah. “Kami memperkirakan target keikutsertaan 20 negara akan terpenuhi,” ujarnya.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.