Masuk Level Senior, Banyak Atlet Malah Melempem

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Staf Ahli Pendidikan dan Pelatihan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Christian Hadinata. Tempo/Aditia Noviansyah

    Staf Ahli Pendidikan dan Pelatihan Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Christian Hadinata. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata menilai prestasi atlet bulu tangkis Indonesia justru menurun saat memasuki level senior.

    Padahal, kata Koordinator pelatih ganda putra PB Djarum itu, kualitas pemain Indonesia saat junior cukup mengancam di kancah internasional.

    "Waktu junior, atlet kita memberi harapan untuk regenerasi berkelanjutan dari bulu tangkis nasional. Prospeknya sangat bagus kalau lihat prestasi atlet kita di level kejuaraan internasional junior," kata Christian di GOR Djarum Jati, Kudus, Rabu.

    Mantan pemain spesialis ganda itu mengatakan prestasi mereka justru mengendur saat memasuki level senior. Hal tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu pekerjaan rumah dari bulu tangkis nasional untuk segera dicari solusinya.

    "Seharusnya apa yang sudah didapat pada level junior sengat memberi harapan yang bagus. Lalu yang menjadi pertanyaan cukup besar, Kenapa di level senior sepertinya kita ketinggalan. Ini harus dicari solusinya," ujar pria yang akrab disapa Koh Chris itu.

    "Saat junior bagus, tetapi setelah level senior sepertinya ketinggalan," tambahnya.

    Menurutnya, pergantian pelatih menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi psikologi pemain.

    "Saat junior banyak yang dipegang pelatih klub tetapi setelah level senior, misal mereka masuk Pelatnas, pelatihnya tentu ganti. Meskipun bukan faktor satu-satunya, tetapi secara psikis, anak-anak ini yang baru beralih ke senior mengalami perbedaan," kata Christian.

    Oleh sebab itu, ia berpendapat bahwa pelatih yang menangani pemain sejak junior dari klub harus tetap dilibatkan.

    "Misal pelatih klub yang menangani atlet junior berprestasi bisa direkrut mendampingi terus atletnya. Atau pelatih-pelatih yang di pelatnas paling tidak harus ada koordinasi dengan pelatih klub untuk karakter anak," ujar Christian.

    Ia menilai memahami karakter pemain sangat penting terutama secara piskologi.

    "Anak-anak dalam masa peralihan. Secara mental kejiwaan mereka belum matang," katanya.

    Dengan menurunkan setidaknya 71 atlet, ndonesia menargetkan minimal lima gelar juara pada Kejuaraan Asia Junior tahun ini.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.