Kurang Fokus, Ihsan Maulana Tumbang di Taiwan Terbuka

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa (kanan), merayakan kemenangan usai mengalahkan pebulu tangkis Thailand, Sappanyu Avihingsanon, pada final Beregu Putra SEA Games ke-28 di Singapore Indoor Stadium, Singapura, 12 Juni 2015. ANTARA/Wahyu Putro A

    Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Ihsan Maulana Mustofa (kanan), merayakan kemenangan usai mengalahkan pebulu tangkis Thailand, Sappanyu Avihingsanon, pada final Beregu Putra SEA Games ke-28 di Singapore Indoor Stadium, Singapura, 12 Juni 2015. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Jakarta - Atlet bulu tangkis tunggal putra Pelatihan Nasional Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (Pelatnas PBSI) Ihsan Maulana Mustofa tumbang pada pertandingan putaran semifinal turnamen Taiwan Terbuka 2015, Sabtu, 17 Oktober 2015.

    "Saya merasa kurang fokus pada pertandingan tadi. Permainan net saya kurang bagus dan banyak ragu-ragu. Sedangkan, lawan terkenal dengan permainan net yang rapi," kata Ihsan di Taipei, Taiwan, seperti dikutip Tim Hubungan Masyarakat dan Media Sosial PBSI dalam siaran pers kepada ANTARA News di Jakarta, Sabtu.

    Ihsan kalah dari atlet wakil tuan rumah Wang Tzu Wei dalam pertandingan selama 53 menit dengan skor 10-21, 21-8, 15-21.

    Pada game pertama, Ihsan hanya mampu mengimbangi permainan Wang hingga skor 5-5. Selebihnya, Ihsan Wang terus mendominasi hingga game pertama berakhir 21-10.

    Atlet putra asal klub Djarum Kudus itu pun berusaha membalas kekalahan pada game kedua. Ihsan terus mengungguli Wang 6-2, 7-3, 10-5, 16-6, hingga 21-8.

    "Sebenarnya stamina Wang sudah habis, sedangkan saya masih lebih kuat. Tapi, saya merasa permainan saya kurang baik," kata Ihsan.

    Pada game ketiga, atlet Merah-Putih yang menempati peringkat 43 dunia itu memprotes keputusan hakim garis saat skor mencapai 8-13. Hakim garis menyatakan bola pengembalian Wang di sudut belakang lapangan masuk. Sedangkan Ihsan melihat bola Wang jatuh di luar garis.

    "Keputusan seperti itu sudah terjadi beberapa kali dalam pertandingan ini. Saya kecewa sekali. Keputusan hakim garis yang paling parah menurut saya pada game ketiga. Saya merasa kesal dan kehilangan fokus permainan," kata Ihsan.

    Pelatih sektor tunggal putra PBSI Marlev Mainaky yang menemani atlet-atlet pelatnas di Taipei, Taiwan, mengatakan Ihsan banyak mendapat pelajaran untuk lebih mengontrol emosi dari pertandingan semifinal turnamen tingkat grand prix itu.

    "Tapi sebagai pemain muda, Ihsan belum mampu mengendalikan emosi saat dicurangi hakim garis. Padahal, Ihsan dapat meraih beberapa poin sekaligus," kata Marlev.

    Meskipun Ihsan gagal melaju ke putaran final, Indonesia tetap memastikan satu wakil pada putaran final turnamen berhadiah total 50 ribu dolar AS itu.

    Pada pertandingan lain semifinal tunggal putra, dua atlet Merah-Putih yaitu Simon Santoso dan Sony Dwi Kuncoro akan saling berhadapan untuk memperebutkan tiket partai final. Pertemuan itu akan menjadi pertemuan ketiga Simon dan Sony setelah pertandingan mereka pada turnamen Jepang Terbuka 2009.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.