Panitia Olimpiade Diusulkan Larang Atletik Rusia Berlaga  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang teknisi mempersiapkan deposito sampel, pada gel elektroforesis SDS untuk mendeteksi doping dengan alat EPO. Prosedur yang rumit membuat pekerjaan mendeteksi doping pada atlet, menjadi tidak mudah. Chatenay, Perancis, 25 Februari 2015. Frederic T Stevens / Getty Images

    Seorang teknisi mempersiapkan deposito sampel, pada gel elektroforesis SDS untuk mendeteksi doping dengan alat EPO. Prosedur yang rumit membuat pekerjaan mendeteksi doping pada atlet, menjadi tidak mudah. Chatenay, Perancis, 25 Februari 2015. Frederic T Stevens / Getty Images

    TEMPO.COJakarta - Tim atletik Rusia terancam tidak bisa turun di Olimpiade 2016 meski menjadi tuan rumah. Badan Anti-Doping Dunia (WADA) mengusulkan agar seluruh olahragawan atletik Rusia dilarang bertanding di kancah internasional. WADA merupakan badan bentukan Komite Olimpiade Internasional untuk menangani persoalan doping.

    Penyelidikan badan independen itu menyimpulkan, terjadi korupsi untuk menutupi praktik doping pada dunia atletik di Rusia. Korupsi ini bahkan menyentuh Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF). Dalam rekomendasinya, WADA juga mengusulkan pelarangan lima atlet dan lima pelatih untuk seumur hidup karena doping.

    Laporan WADA menyebutkan, IAAF berperan melakukan kecurangan sistemis untuk membantu Rusia. Pada Olimpiade London 2012, WADA menuding terjadi pembiaran terhadap atlet Rusia.

    Ketua Komisioner WADA, Dick Pound, mengatakan doping ini mendapat dukungan dari pemerintah Rusia. Rusia juga mendorong Lord Coe memimpin IAAF untuk membantu Rusia.

    Menteri Olahraga Rusia, Vitaly Mutko, terang-terangan menolak tudingan itu. Federasi atletik Rusia (RusAthletics) malah menduing WADA membelokan protokol soal doping. "Harus dibuktikan pelanggaran merupakan kesalahan federasi dan bukan invididu," kata kepala RusAthletic Vadim Zelechenok.

    Laporan ini merupakan tindak lanjut dari investigasi akibat tayangan sebuah televisi swasta Jerman. Tayangan itu menyebut atlet Rusia menghabiskan 5 persen dari gajinya untuk mendapat zat terlaran. Uang itu juga digunakan untuk menyuap para pejabat IAAF dan Rusia.

    Dalam tayangan itu, seorang atlet Rusia Yevgeniya Pecherina mengaku, hampir semua atlet Rusia menggunakan obat terlarang. Ia sendiri tengah menjalani masa skorsing selama 10 tahun hingga 2023 akibat doping. Pemenang lari maraton London 2010, Liliya Shobukhova mengaku, ia menyogok Federasi Atletik Rusia sebesar 450 ribu Euro atau Rp 7,2 miliar agar lolos tes doping.

    BBC | GURUH RIYANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.