ISSI Studi Banding Balap Sepeda Internasional ke Malaysia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pembalap sepeda nomor Individual Road Race (IRR) beradu cepat saat melintas di jembatan Jengkiling Kandangan, Temanggung pada kejuaraan LCC (Lomba Customs Cycling) 2015 di Temanggung, Jawa Tengah, 12 Desember 2015. ANTARA FOTO

    Sejumlah pembalap sepeda nomor Individual Road Race (IRR) beradu cepat saat melintas di jembatan Jengkiling Kandangan, Temanggung pada kejuaraan LCC (Lomba Customs Cycling) 2015 di Temanggung, Jawa Tengah, 12 Desember 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.COJakarta - Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) melakukan studi banding ke Malaysia terkait dengan pelaksanaan kejuaraan balap sepeda internasional untuk kategori 2.1 yang selama ini belum pernah dilaksanakan di Tanah Air.

    Ketua Umum PB ISSI Raja Sapta Oktohari, sebelum bertolak ke Malaysia di Jakarta, Selasa, mengatakan studi banding itu penting karena Indonesia mulai mencanangkan untuk meningkatkan kategori kejuaraan balap sepeda internasional yang selama ini berkutat di 2.2.

    "Malaysia sudah mempunyai Le Tour de Langkawi yang merupakan kejuaraan balap sepeda kategori 2.1. Indonesia juga ingin menggelar kejuaraan seperti itu. Makanya kita akan melakukan studi banding supaya Indonesia secepatnya bisa menggelar kejuaraan dengan kategori yang sama," katanya.

    Dalam melakukan studi banding, Raja Sapta Oktohari tidak datang ke Malaysia sendirian, tapi ia didukung oleh pengurus lain yang semuanya berkaitan dengan pelaksanaan kejuaraan. 

    Pihaknya ingin pengurus yang selama ini mendukungnya mendapatkan ilmu selama menjalani studi banding.

    "Memang banyak pengurus yang kami bawa, mulai komite wasit, komite kompetisi, hingga pengurus yang lain. Kami ingin semua mengetahui dengan detail apa yang harus dilakukan jika menggelar kejuaraan dengan kategori 2.1," katanya.

    Studi banding yang dilakukan PB ISSI bertepatan dengan pembukaan salah satu kejuaraan bergengsi di Asia, yaitu Le Tour de Langkawi 2016. 

    Kejuaraan itu diikuti 22 tim terbaik dan tiga di antaranya tim Pro Tour. Indonesia mengirimkan satu wakil, yaitu Pegasus Continental Cycling Team (PCT).

    Dengan studi banding yang waktunya bersamaan pelaksanaan kejuaraan kategori 2.1 tersebut, ISSI akan melihat secara langsung apa yang harus disiapkan jika menggelar kejuaraan yang sama, termasuk dalam menyiapkan fasilitas pendukung di antaranya akomodasi.

    "Jadi kita bisa membedakan mana yang kategori 2.2 dan 2.1 secara langsung. Setelah studi banding ini kami akan segera mengkaji kejuaraan mana yang bisa dinaikkan kategorinya," kata pria yang juga seorang promotor tinju itu.

     Okto mengaku ada beberapa kejuaraan balap sepeda di Indonesia yang berpeluang dinaikkan kategorinya minimal pada 2017 di antaranya Tour de Singkarak. 

    Kejuaraan balap sepeda di Sumatera Barat tersebut selama ini sudah menjadi ikon balap sepeda di Indonesia dan telah masuk kalender resmi UCI.

    Selain itu, masih banyak lagi kejuaraan yang digelar di Indonesia, seperti Tour de Banyuwangi, Tour de East Java, dan Tour de Siak. 

    Sebenarnya ada satu lagi kejuaraan yang paling bergengsi, yaitu Tour d’Indonesia. Hanya saja, kejuaraan balap sepeda dari Jakarta menuju Bali itu vakum sejak 2012. 

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.