Liputan Tempo Saat Amerika Merayakan Usia Muhammad Ali ke-70

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Howard Cosell, bercanda dengan juara tinju kelas berat Muhammad Ali saat makan malam di New York, April 13, 1981. Muhammad Ali meninggal dunia pada usia 74 tahun. AP/Richard Drew, File

    Howard Cosell, bercanda dengan juara tinju kelas berat Muhammad Ali saat makan malam di New York, April 13, 1981. Muhammad Ali meninggal dunia pada usia 74 tahun. AP/Richard Drew, File

    TEMPO.CO, Jakarta - TERIAKAN itu menggetarkan gedung enam lantai di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Kumandang 700 pengunjung di Gedung Ali Center tersebut mengingatkan pada pekik penonton tinju di seluruh pelosok Tanah Air pada 1970-an. Saat itu setiap pertandingan Muhammad Ali merupakan hari libur tak resmi. Anak sekolah dan pegawai kantor tetap masuk, tapi hanya untuk nonton bareng di televisi, sembari berseru, "Ali, Ali, Ali."

    Malam itu, Sabtu dua pekan lalu, Ali muncul dari balkon dengan dituntun istrinya, Lonnie Ali. Tangannya pelan melambai. Wajahnya tak berhenti tersenyum. Usianya tepat 70 tahun.

    Parkinson—penyakit gangguan saraf—membuat gerak lincah, pukulan, ejekan, dan leluconnya tinggal kenangan. Tubuhnya terus bergetar di luar kendali dan harus dipapah. Ia sulit berbicara. Tapi Ali tetap menjadi magnet yang membuat jutaan orang ingin berada di dekatnya.

    Karisma Ali membuat pengunjung Ali Center rela menembus guyuran salju yang membekukan kota berpenduduk 741 ribu itu di suhu minus enam derajat Celsius. Mulai anggota Kongres, gubernur, atlet, sampai pemusik David Foster dan John Mellencamp berkumpul untuk merayakan ulang tahunnya. "Muhammad masih seperti anak kecil," ujar Lonnie. "Dia senang pesta ulang tahun."

    BACA: Petinju Legendaris Muhammad Ali Wafat

    Saat Shimsi—pesulap jebolan America's Got Talent—tampil, Ali terlihat paling sering melempar senyum. Ia tampak menikmati malam yang disediakan untuk membahagiakan dirinya itu. Maklum, menonton sulap adalah salah satu kegemarannya. Bermain sulap juga menjadi hobi petinju yang terkenal dengan julukan Si Mulut Besar tersebut.

    Di pesta itu, pengunjung tak cuma bertemu dan bersulang mengenang kehebatan juara tiga kali kelas berat tinju dunia pada periode 1960-an dan 1970-an tersebut. Pengunjung juga bisa berkeliling gedung yang didesain sebagai museum dan sekaligus pusat budaya sang legenda.

    Di Ali Center seluas hampir 9.000 meter persegi ini ditampilkan lima hal nilai kehidupan utama dari seorang Muhammad Ali yang dituangkan ke dalam ruang pameran, yaitu Respect (Rasa Hormat), Conviction (Keyakinan), Dedication (Pengabdian), Charity (Amal), dan Spiritual. Di sini ada foto-foto Ali kecil hingga foto pertandingan terakhirnya, pelbagai lukisan, serta puisi. Sebuah proyektor besar dipasang untuk memutar film The Greatest. "Museum ini impian dari Muhammad Ali dan istrinya," kata Jeanie Khanke, Wakil Direktur Komunikasi dan Pemasaran Ali Center.

    BACA: Pameran Tentang Muhammad Ali Dibuka

    Di paviliun lain dari museum yang dibangun dengan biaya US$ 80 juta tersebut dipasang sebuah ring tinju tiruan. Ada pula semua memorabilia tinju Ali dan berbagai pertandingan tinju bersejarah yang pernah dilakoninya. Hampir semua sarung tangannya dipajang. Hanya, tak tampak sepeda masa kecilnya yang telah mengubah nasibnya menjadi seorang petinju yang disebut Angelo Dundee, pelatihnya, sebagai "paling dicintai orang sejagat".

    l l l

    Siapa sangka cerita legendaris Muhammad Ali bermula dari sepeda. Cassius Clay Junior—nama lahir Ali—kehilangan sepeda yang baru diberikan orang tuanya saat mengunjungi pasar malam di Louisville, Oktober 1954. Sembari mewek, bocah 12 tahun itu mengadu kepada Joe Martin, polisi yang juga pelatih tinju. Alih-alih membuat laporan kehilangan, Martin mengajaknya berlatih tinju di Columbia Gym supaya bisa menggebuki maling yang menggondol sepedanya.

    Sejak itu, tinju jadi napas Ali. Sepeda, juga malingnya, dia lupakan. Tempo menyambangi rumah masa kecilnya di 3302 Grant Avenue, West End, ujung barat Louisville, permukiman warga kulit hitam. Rumah beratap rendah tersebut sudah lama berganti pemilik. James Woodrow, tetangga rumah Ali, mengatakan banyak orang baru yang tinggal di kawasan tersebut. Mereka sudah mengubah bentuk rumah.

    Teman masa kecil Ali, Lawrence Montgomery, ingat saat mereka bermain dulu, Ali kerap berkoar ingin jadi juara dunia tinju. "Man, lebih baik kamu buang jauh-jauh pikiran itu," katanya, mengejek, seperti dikutip AP. Tapi Cassius muda terus berlatih. Dalam hitungan pekan sejak kehilangan sepeda, dia naik ring untuk pertama kali, menang, dan mendapatkan bayaran setara dengan Rp 36 ribu. Menurut Martin, Cassius menonjol karena memiliki determinasi lebih dari petinju lain.

    BACA: Cerita dan Alasan Muhammad Ali Masuk Islam

    Ketimbang naik bus sekolah, dia memilih joging sampai sekolahnya di Central High School. Tempo menghitung jarak antara rumah dan sekolah itu lebih dari lima kilometer. Shirlee Smith, 69 tahun, yang sama-sama lulus pada 1960, mengatakan Cassius menyusul dan melambai pada bus yang kerap berhenti untuk menunggu tumpangan. "Biasanya sampai sekolah barengan," ujarnya.

    Enam tahun setelah kehilangan sepeda, Cassius meraih emas untuk Amerika Serikat di Olimpiade Roma. "To make America greatest is my goal, so I beat the Russian and I beat the Pole, and for the U.S.A. won the medal of gold, the Greeks said you're better than the Cassius of Old," ujarnya. Itulah saat pertama dunia melihat petinju yang mengumbar omongan. Berima pula. Waktu itu semua petinju hanya mau berbicara seperlunya lewat mulut manajer.

    Meski mendapat sambutan dengan pawai meriah ketika kembali ke kota kelahirannya, dia tetap ditolak mendapat pelayanan di restoran kulit putih. Frustrasi, Cassius melemparkan medalinya ke Sungai Ohio, yang membelah Louisville.

    Pada Oktober 1960, dia beralih jadi petinju profesional. Uang kontrak senilai US$ 10 ribu dia belikan mobil Cadillac merah muda untuk ibunya, Odetta. Di bawah asuhan Angelo Dundee, Cassius mengarungi 19 pertandingan tanpa kalah dan berkesempatan melawan juara dunia kelas berat, Sonny Liston, pada 25 Februari 1964. Dia meledek sang jawara dengan menyebutnya jelek seperti beruang. "Sedangkan saya terlalu tampan, sampai-sampai tidak kuat melihat diri sendiri," katanya.

    Meski tak diunggulkan, The Greatest—julukan Cassius—mendominasi pertandingan. Dia melonjak kegirangan saat Liston menyerah pada ronde ketujuh karena cedera bahu. Cassius menang technical knockout dan menyandang gelar juara dunia pada usia 22 tahun.

    Penonton menyukai gaya tarungnya yang tak lazim. Cassius memiliki kuda-kuda dengan pertahanan tangan rendah. Dia mengandalkan kelincahan badan untuk menghindari pukulan lawan. Sepanjang pertandingan, dia terus memutari ring dengan langkah kaki layaknya penari. Anggun bagai kupu-kupu. Membuat lawan hanya mampu memukul angin.

    Jurus khasnya ada dua: Ali Shuffle dan Rope-a-Dope. Jurus pertama dia lancarkan dengan mengganti posisi kaki depan dan belakang secara supercepat sehingga dia terlihat seperti mengambang. "Awalnya cuma untuk gaya," katanya, "tapi ternyata juga berguna untuk keluar dari kepungan pukulan lawan."

    Jurus kedua adalah strategi bertahan dengan bersandar di tali ring. Lawan merasa berhasil menyudutkannya dan melontarkan pukulan beruntun. Dia berkelit lincah dan memanfaatkan kelenturan tali untuk menjauh. Aksi ini efektif guna menguras stamina lawan. Jurus-jurus itu dia padukan dengan pukulan dengan kecepatan di atas rata-rata, layaknya sengatan lebah. Tangan kirinya, lewat jab dan pukulan silang, terkenal angker dan selalu mengincar kepala lawan.

    Sehari setelah jadi juara dunia, dia memproklamasikan diri sebagai anggota Nation of Islam, gerakan pembela hak warga kulit hitam dan pengajaran Islam di Amerika Serikat. Lalu dia mengganti nama jadi Muhammad Ali, hasil petunjuk pemimpin gerakan, Elijah Muhammad.

    Ali sembilan kali mempertahankan sabuk juaranya, tujuh di antaranya lewat kemenangan KO. Semua tiket pertandingannya ludes. Namun cerita indah itu terhenti setelah komisi tinju Amerika Serikat mencopot gelarnya pada 1967. Penyebabnya, Ali menolak wajib militer untuk Perang Vietnam. Ia berkukuh Islam melarangnya berperang melawan pihak yang tidak memusuhinya. "Saya tidak punya masalah dengan Vietkong.Mereka tidak pernah memanggilku Negro," katanya. Meski kehilangan masa emasnya sebagai petinju, Ali tidak pernah menyesali keputusan itu.

    Dia kembali ke ring tiga tahun kemudian, mengandaskan Jerry Quarry dan Oscar Bonavena. Tiba saatnya Ali menghadapi juara dunia Joe Frazier. Partai yang menampilkan dua petinju tak terkalahkan itu bertajuk "Fight of the Century" dan berlangsung di Stadion Madison Square Garden, New York, 8 Maret 1971.

    Kerusuhan melanda beberapa kota di Amerika Serikat, karena penonton yang berebut ingin masuk tempat yang menayangkan siaran langsung, seperti sebuah teater di Chicago yang hancur diamuk massa. Situs Ali menyebutkan penyanyi legendaris Frank Sinatra kehabisan tiket dan baru bisa masuk setelah meminjam kartu pass milik fotografer majalah Life.

    Frazier, 27 tahun, terus menekan Ali. Strategi Rope-a-Dope tidak membuatnya lelah. Pada ronde ke-15, hook kiri juara bertahan membuat rahang kanan Ali mbelesek. Sang penantang terjatuh. Namun, bangkit di hitungan kedelapan, ia lalu membalas dengan hujanan pukulan sehingga kedua mata Frazier nyaris tertutup. Ali kalah angka, dan ini jadi kekalahan pertama dalam kariernya. Namun sang juara justru tidak bisa menikmati kemenangan karena langsung dilarikan ke rumah sakit.

    Pada akhir pertandingan, penonton berteriak, "Ali, Ali, Ali." The People's Champ, jawara tanpa gelar, telah lahir.

    Ali harus mengarungi 14 pertandingan—termasuk membalas kekalahan dari Frazier dan menang atas petinju Belanda, Rudi Lubbers, di Stadion Utama Senayan, Jakarta—sebelum bisa kembali menantang juara dunia, yang sudah beralih ke George Foreman. Di laga bertajuk "Rumble in the Jungle" di Zaire, Oktober 1974, Ali datang sebagai underdog. Namun jawara yang tujuh tahun lebih muda dan dikenal memiliki pukulan bak palu godam itu kesulitan menghadapi sang penantang. Berkali-kali pukulan Foreman masuk telak, tapi Ali malah meledeknya, "Cuma segini pukulanmu, George." Kombinasi pukulan silang kiri dan lurus kanan Ali membuat Foreman jatuh pada ronde kedelapan. Jawara tanpa gelar itu kembali ke puncak dunia.

    The Greatest menikmati status sebagai nomor wahid selama empat tahun dan mengalahkan sepuluh penantang, termasuk Frazier. Pada Februari 1978, Ali kehilangan gelarnya akibat kalah angka dari Leon Spinks, 25 tahun, yang baru delapan kali naik ring. Ali membalas kekalahan itu setahun kemudian dan jadi juara dunia untuk ketiga kalinya.

    Hanya usia yang mampu menghentikannya. Larry Holmes, mantan lawan latih tandingnya, membuat Ali tidak berkutik saat bertarung di Las Vegas, Oktober 1980. Pelatih Dundee melempar handuk di akhir ronde ke-10. Upaya comeback dengan menantang Trevor Berbick setahun kemudian gagal total karena Ali kehabisan napas. Saat pelatihnya menyuruhnya maju menyerang, setengah ngelindur, Ali membalas, "Kau saja yang maju menyerang, aku capek." Dia gantung sarung tinju pada 12 Desember 1981, di usia hampir 40 tahun.

    Meski menyanjung Ali sebagai petinju dan manusia hebat, Holmes mengkritik teman lamanya itu karena berkarier kelewat panjang. Total jenderal, Ali bertinju 27 tahun. "Dan berakhir dengan, ya, lihatlah, dia kena parkinson," ujarnya kepada Tempo. Holmes, 62 tahun, terakhir bertemu dengan Ali saat pemakaman Frazier, November lalu. "Tapi Ali sudah tidak dapat berbicara lagi."

    Holmes boleh saja membanggakan diri sebagai penakluk Ali. Namun dunia tetap memuja The People's Champ. Setelah mengalahkan Ali, Holmes dihampiri seorang ibu tua. Ketika memastikan lawan bicara adalah sang juara dunia, ibu itu berujar, "Aku benci kau." Holmes kebingungan dan balik bertanya. "Karena kau mengalahkan Muhammad," jawabnya sambil melengos.

    Karib sekaligus penulis biografi Ali, Howard Bingham, mengatakan orang mencintai The People's Champ karena Ali mencintai orang-orang itu terlebih dulu. Dia tak pernah terlihat melewatkan permintaan bersalaman dan tanda tangan. Di setiap perjamuan, Ali selalu menyambangi juru masak untuk berterima kasih atas sajian yang mereka suguhkan. "Oh ya, dia juga sangat cinta bayi," kata kakek 73 tahun itu kepada Tempo. "Saban melihat bayi, pasti dia ingin menggendong."

    Si Mulut Besar menjelma jadi tokoh dunia, dengan karisma terbentang melintasi benua. Di Indonesia, yang berjarak 17 ribu kilometer dari rumah Ali di Louisville, namanya diabadikan dalam salah satu lirik lagu kelompok musik Bimbo. Pada 1970-an, di saat pemilik televisi masih terbatas, orang berduyun-duyun pergi ke kelurahan, kecamatan, sekolah, atau kantor untuk menyaksikan gaya Ali bertinju, sembari berseru, "Ali, Ali, Ali, petinju lari-lari."

    Sorakan itu kembali terdengar di pesta ulang tahunnya, hampir 30 tahun sejak dia terakhir menjejakkan kaki di ring tinju. "Ali, Ali, Ali." Sang Jawara pun kembali tersenyum.

    Reza Maulana, Victoria Sidjabat (Louisville)

    Dari Rubrik Intermezzo majalah Tempo edisi 30 Januari 2012.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?