Gagal Raih Gelar Prancis Terbuka, Begini Reaksi Murray  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi petenis asal Inggris Andy Murray, setelah mendapatkan angka dari lawannya Stan Wawrinka pada pertandingan Semifinal Prancis Terbuka di Roland Garros, Paris, 3 Juni 2016. Murray menang atas Wawrinka dengan 6-4 6-2 4-6 6-2. AP/Alastair Grant

    Ekspresi petenis asal Inggris Andy Murray, setelah mendapatkan angka dari lawannya Stan Wawrinka pada pertandingan Semifinal Prancis Terbuka di Roland Garros, Paris, 3 Juni 2016. Murray menang atas Wawrinka dengan 6-4 6-2 4-6 6-2. AP/Alastair Grant

    TEMPO.CO, Jakarta - Petenis Andy Murray gagal menyabet gelar Prancis Terbuka tahun ini setelah takluk di tangan petenis Serbia, Novak Djokovic, 3-6, 6-1, 6-2, 6-4. Padahal ia berharap bisa meraih gelar Prancis Terbuka 2016 untuk melengkapi raihan dua Grand Slam sebelumnya, yaitu Wimbledon dan AS Terbuka.

    Seusai pertandingan, petenis asal Skotlandia, 29 tahun, meluapkan kekecewaannya. “Saya sangat kecewa, saya telah berusaha keras,” ujar Murray, seperti yang dilansir The Guardian, Ahad, 5 Juni 2016.

    Tertunduk lesu, Murray mengungkapkan penyesalan karena harus kembali kehilangan gelar Grand Slam di Roland Garros setelah pertandingan melelahkan sekitar 3 jam menghadapi Djokovic itu berjalan. "Ketika sudah berada di final dan ingin menang, aku tidak melakukannya hari ini," ucapnya.

    Namun ia mengatakan telah berusaha keras untuk bisa mengalahkan Djokovic. Terbukti dia hanya sedikit melakukan kesalahan selama pertandingan. Meski demikian, Murray harus mengakui keunggulan petenis Serbia itu.

    Murray pun memuji raihan prestasi Djokovic yang mampu memperoleh empat gelar Grand Slam dalam rentang setahun. “Saya membuat keajaiban itu, tapi dia melakukan yang terbaik untuk mengakhiri pertandingan dengan kemenangan,” ujarnya.

    THE GUARDIAN | GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.