Maria Londa Bersiap ke Olimpiade, Diberi Motivasi Lembaran Rp 50 Ribu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet Lompat Jauh asal Bali, Maria Natalia Londa, melakukan latihan lompat jauh di Pantai Legian, Bali, 28 Januari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    Atlet Lompat Jauh asal Bali, Maria Natalia Londa, melakukan latihan lompat jauh di Pantai Legian, Bali, 28 Januari 2016. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.COJakarta - Menghadapi Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, pada Agustus 2016, atlet lompat jauh putri dari Bali, Maria Natalia Londa, masih memantapkan pendaratan lompatan dalam program latihan prakompetisi. Pelatih Maria, I Ketut Pageh, mengatakan saat pendaratan posisi pantat atlet binaannya itu belum seimbang dengan kaki. Pageh menuturkan memperbaiki pendaratan atlet binaannya itu memang tidak mudah.

    "Saya selalu ingatkan juga posisi tangan, ini juga dipengaruhi hasil penelitian standardisasi kesempurnaan tubuh Maria yang abnormal, kakinya pendek sebelah, tulangnya juga tidak sempurna sehingga mempengaruhi pendaratannya," katanya saat ditemui Tempo setelah mendampingi Maria latihan di Lapangan Umum Mengwi, Kabupaten Badung, Jumat, 15 Juli 2016. "Saya usahakan maksimal di waktu yang singkat ini karena jangan sampai rugi saat pendaratan. Tapi, dari hasil latihan tadi, pantatnya yang jatuh sudah melebihi kaki."

    Pageh menjelaskan, program latihan Maria dalam prakompetisi sudah masuk 95 persen dari kompetisi utama. Dari sisa waktu latihan, ujar Pageh, Maria harus punya waktu melayang di udara paling tidak 1 detik. "Sekarang ini belum masuk, inilah yang saat ini sedang kami usahakan untuk menemukan metode itu," ucapnya. "Hari ini Maria masuk lompatan 6,80 meter dengan boks. Jadi, kalau tanpa boks, perkiraan 6,50 meter sudah bagus.

    Berdasarkan pantauan Tempo di lokasi, ada yang menarik dari latihan Maria kali ini. Pageh sempat meletakkan selembar uang Rp 50 ribu di batas lompatan yang harus dilewati Maria. Menurut Pageh, cara itu dilakukan ketika atlet binaannya sudah merasa jenuh saat latihan sehingga tidak mencapai target yang diinginkan. Pageh menilai hal itu sekadar mengalihkan ke metode lain yang tidak mengurangi tujuan program latihan.

    "Kalau sudah lelah diajak bercanda supaya jenuh itu hilang. Terbukti tadi, kalau dia tidak saya ajak bercanda dan beri hadiah, sebelumnya enggak tembus 6,50 meter. Setelah dikasih (uang), bisa lewat dan dapat 6,80 meter," tuturnya sambil tertawa.

    Bagi Maria, strategi latihan yang diselingi guyon dan pemberian hadiah berupa uang Rp 50 ribu itu dianggap menarik ketika dia merasa lelah dan jenuh. "Apalagi tingkat stres sangat tinggi menjelang pertandingan dan itu motivasi pelatih untuk saya. Terkadang itu shock therapy juga karena, kalau enggak lewat, saya kena hukum," ujarnya.

    Atlet kelahiran Denpasar, 29 Oktober 1990, itu menuturkan, selama 15 tahun ditangani Pageh, ia sangat nyaman menjalani cara-cara latihan yang diterapkan. "Suka-duka di lapangan sudah saya jalani bareng-bareng, jadi sudah kayak ayah di lapangan, teman atau sahabat curhat, lebih dari sekadar pelatih," tuturnya.

    BRAM SETIAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.