LeBron James Perpanjang Kontrak dengan Cavaliers

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pebasket Cleveland Cavaliers, LeBron James menempati posisi keenam sebagai atlet terkaya menurut majalah Forbes dengan penghasilan 64,8 juta dollar AS. REUTERS/ David Richard-USA TODAY Sports

    Pebasket Cleveland Cavaliers, LeBron James menempati posisi keenam sebagai atlet terkaya menurut majalah Forbes dengan penghasilan 64,8 juta dollar AS. REUTERS/ David Richard-USA TODAY Sports

    TEMPO.CO, Jakarta - LeBron James telah menandatangani kontrak baru untuk tetap memperkuat klub kampung halamannya, Cleveland Cavaliers, sampai tiga musim ke depan.

    Pernyataan yang disampaikan pada Kamis, 11 Agustus 2016, waktu Amerika Serikat atau kurang dari dua bulan setelah James mengantarkan Cavaliers merengkuh gelar juara NBA pertamanya itu sudah lama diperkirakan banyak kalangan.

    "Saya kembali menandatangani kontrak dengan Cleveland Cavaliers, tim kampung halaman saya," kata James lewat unggahan video, seperti dilansir laman berita olahraga Uninterrupted. "Saya tidak bisa lebih menyenangkan ketimbang peluang ini untuk kembali mempertahankan mahkota kami, mempertahankan gelar juara kami."

    Agen Rich Paul berkata kepada ESPN, kontrak baru ini bernilai 100 juta dolar Amerika dengan durasi kontrak tiga tahun. James akan menangguk 31 juta dolar Amerika pada musim depan, yang membuatnya menjadi pemain paling mahal di NBA. Pendapatannya akan naik sampai US$ 33 juta pada musim 2017-2018.

    James, 31 tahun, menjadi pemain terbaik NBA sebanyak empat kali. Dia pernah dua kali juara NBA bersama Miami Heat sebelum pindah ke Cavaliers pada 2014 untuk mengantar tim ini ke final NBA, tapi kemudian dikalahkan Golden State Warriors.

    Tahun ini, Cavaliers membalas dendam kekalahan itu sekaligus mempersembahkan gelar juara turnamen olahraga besar pertama untuk kota di Ohio ini sejak 1964, seperti dilansir Reuters.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.