Regenerasi Atlet PBSI, dari Tri-Minarti ke Riky-Richi (3)

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kegembiraan pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir setelah mengalahkan lawannya asal Malaysia Peng Soon Chan dan Liu Ying Goh 21-14 21-12 pada final bulutangkis di  Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, 18 Agustus 2016. REUTERS/Mike Blake

    Kegembiraan pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir setelah mengalahkan lawannya asal Malaysia Peng Soon Chan dan Liu Ying Goh 21-14 21-12 pada final bulutangkis di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, 18 Agustus 2016. REUTERS/Mike Blake

    TEMPO.COJakarta - Melihat apa yang terjadi selama ini, para pelatih di PBSI, seperti Richard Mainaky, memiliki keahlian dalam meregenerasi pasangan di nomor ganda campuran. Hal ini terlihat dari cara mereka mencari pasangan yang cocok buat Liliyana Natsir, setelah Nova Widianto gantung raket setelah mereka bertanding pada final Olimpiade Beijing 2008.

    Ganda campuran sekarang menjadi salah satu nomor andalan tim bulu tangkis Indonesia. Para pemainnya sudah memenangi berbagai gelar penting, seperti Juara Dunia, All England, dan kini Olimpiade. Sebelumnya, 6 emas Olimpiade dihasilkan dari tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putra.

    Setelah kekuatan di tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putra melemah, serta ganda putri melalui Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari baru mulai bangkit dengan melangkah sampai perempat final Olimpiade 2016, tradisi ganda campuran di Indonesia di Olimpiade mungkin bisa menjelaskan bahwa mereka punya peluang untuk mempertahankan raihan emas ini. Sebelum 2008, yaitu pada Olimpiade Sydney 2000, wakil mereka sudah hadir di final, yaitu pasangan Tri Kusharjanto/Minarti Timur, yang harus puas mendapatkan perak setelah kalah oleh Zhang Jun/Gao Ling dari Cina.

    Tradisi yang dibangun dari kepiawaian meramu pasangan yang cocok itu mungkin bisa dipertahankan Richard Mainaky dan kawan-kawan di tim pelatih pelatnas PBSI jika para pasangan ganda campuran lain di bawah generasi Praveen Jordan/Debby Susanto, seperti Edi Subaktiar/Gloria Widjaja, Ronald/Melati, dan Riky/Richi, bisa terus berkembang penampilannya. Jangan lupa bahwa Nova juga ikut andil dalam keberhasilan ganda campuran bulu tangkis Indonesia meraih emas di Rio.

    “Kemenangan ini bukan karena saya saja sebagai pelatih, tapi juga dukungan dari asisten pelatih, Nova. Dia sangat membantu saya dengan tulus, dia bantu saya sampai capek, makanya saya mau dia ikut ke sini (Rio). Terima kasih juga kepada PBSI dan semua tim support atas dukungannya yang luar biasa,” tutur Richard di situs badmintonindonesia.org.

    Praveen akan dicarikan pasangan yang cocok atau menemukan andalan baru di ganda campuran lain. Itulah pekerjaan rumah buat para pembina dan pelatih PBSI. Tapi, melihat sejarah dan tradisi, mereka akan bisa menyelesaikan pekerjaan rumah ini dengan baik sambil menemukan pemain baru di nomor lain.

    PRASETYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.