PON 2016, Insiden Pemukulan Wasit Iran Disesalkan PB PON

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo PON 2016 Jawa Barat. wikiepdia.org

    Logo PON 2016 Jawa Barat. wikiepdia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) XIX/2016 Jawa Barat menyayangkan kericuhan dalam pertandingan gulat di Gelanggang Olahraga (GOR) Saparua Kota Bandung, Senin, 26 September 2016, sekitar pukul 16.00 WIB. Pelatih gulat dari Kalimantan Timur melakukan pemukulan terhadap wasit asal Iran.

    "Tentunya kami hanya sangat menyayangkan kejadian itu, terlebih yang dipukul itu wasit dari luar negeri, dari Iran," kata Wakil Juru Bicara PB PON XIX Ruddy Gandakusumah dalam jumpa pers di Media Center Utama PON XIX, di Kota Bandung.

    Ia menuturkan akibat kericuhan tersebut pertandingan cabang olahraga gulat yang dilaksanakan di GOR Saparua Kota Bandung ditunda untuk sementara waktu. "Sekarang ditunda, dan tadi katanya mau dicek atau diputar ulang rekaman CCTV video pertandingan untuk mengetahui lebih pasti siapa yang salah dalam kericuhan tersebut," kata dia.

    Ia menuturkan berdasarkan keterangan dari panitia pelaksana pertandingan cabang olahraga gulat, diketahui bahwa kericuhan bermula karena pelatih Kaltim tidak menerima keputusan wasit yang memenangkan Jawa Barat dalam kelas 65 kilogram.

    "Jadi infonya si pelatih dari Kaltim masuk terus mukul wasit dari Iran karena tidak terima dengan keputusan wasit," jelas Ruddy.

    Menurut dia, dengan adanya kejadian itu, wasit dari Iran tersebut meminta jaminan kemanan selama pertandingan berlangsung.

    "Dan kalaupun mau diusut (oleh polisi) silakan saja karena barang bukti ada. Kami dari PB PON tidak memiliki kewenangan apa-apa terhadap kejadian ini cuma kami sangat menyayangkan dan kalau bisa kami sarankan agar diselesaikan secara kekeluargaan saja," kata dia.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.