Jadi Test Driver Tim F1 Toro Ross, Sean Gelael: Seperti Mimpi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembalap Indonesia, Sean Gelael, di markas Toro Rosso. (twitter/@gelaelized)

    Pembalap Indonesia, Sean Gelael, di markas Toro Rosso. (twitter/@gelaelized)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pembalap muda Indonesia, Sean Gelael, secara resmi telah diumumkan sebagai pembalap penguji (test driver) tim Formula 1 Scuderia Toro Rosso. Atlet berusia 20 tahun ini pun mengaku kian termotivasi dan bertekad untuk memanfaatkan momentum ini dengan menjaga performa balapnya secara konsisten.

    “Ya, rasanya seperti mimpi," kata Sean, dalam rilis dari tim manajemennya. "Tentu ini akan menambah motivasi saya. Ini sekaligus tantangan besar saya. Karena itu, saya juga harus bisa tampil bagus dan konsisten pada balapan F2. Saya tahu ini merupakan kesempatan besar dalam karier balap saya.”

    Kepastian terpilihnya Sean, yang musim ini akan tampil secara penuh di ajang F2 bersama tim Pertamina Arden, diumumkan akun twitter resmi Toro Rosso. Mereka mengunggah foto Sean yang sedang melakukan Seat Fitting atau penyesuian tempat duduk mobil F1 Toro Rosso di markas mereka di Faenza, Italia. “Selamat datang Sean ! Dia akan menjadi test driver kami di Bahrain, Hongaria, dan Abu Dhabi,” demikian cuitan Toro Rosso.

    Baca: Sean Gelael Jadi Test Driver Formula 1, Begini Kata Rio Haryanto

    Penunjukan itu cukup menarik perhatian. Situs resmi Formula 1, menurunkan ulasannya dengan judul "F2 Racer Gelael to test for Toro Rosso”. Sedangkan laman otomotif Autosport memberitakan dengan judul "Toro Rosso F1 Team to Use F2 Racer Sean Gelael for in Season Testing”.

    Sean, yang pada musim ini akan berkolaborasi dengan pebalap Perancis Norman Nato di tim Pertamina Arden pada balapan F2,  diberi kesempatan untuk menguji mobil Toro Rosso STR12 di sirkuit Bahrain, Hungaria, dan Abu Dhabi. Ia pun antusias menyambut kesempatna itu.

    “Terima kasih kepada Toro Rosso yang telah memberi saya kesempatan dan dukungan," kata Sean. "Saya masih harus bekerja keras dan tak akan berhenti untuk membuktikan serta membayar kepercayaan ini. Saya juga berterima kasih kepada semua pihak yang selalu mendukung saya.”

    Bagi Sean, kesempatan ini memang kian membuka jalan untuk menuju balapan Formula 1. Sean pun telah membuat sejarah dengan menjadi pebalap pertama yang bukan merupakan pebalap binaan tim Red Bull atau Toro Rosso tapi dipercaya sebagai pebalap penguji di tim ini.

    Toro Rosso dan Red Bull kebetulan punya afiliasi dengan tim Arden Motorsport, tim yang saat ini menaungi Sean untuk balapan F2. Tim Arden didirikan Garry Horner yang merupakan ayah kandung dari bos Red Bull, Christian Horner.

    Memiliki nama lengkap Scuderia Toro Rosso, tim ini dimiliki perusahaan minuman berenergi asal Austria, Red Bull GmbH, selain tim Red Bull Racing. Makanya, Toro Rosso disebut juga tim Red Bull junior.

    Meski dikenal sebagai tim yunior Red Bull, Toro Rosso telah menghasilkan beberapa pembalap hebat. Juara dunia empat kali, Sebastian Vettel, kariernya juga diawali di tim ini sebelum naik kelas ke Red Bull. Demikian juga dengan pembalap muda Max Verstappen yang menjadi rising star musim 2016.

    Toro Rosso mulai mengikuti balapan F1 pada 2006. Awalnya tim ini bernama Minardi, didirikan Giancarlo Minardi dan bermarkas di Faenza, Italia. Tim Minardi mengikuti balapan F1 dari tahun 1985 sampai 2005.

    Kepemilikan tim Minardi sebenarnya sempat berpindah tangan ke Paul Stoddart pada 2001. Namun, pebisnis asal Australia ini hanya mampu menjalankan tim selama lima tahun, sebelum akhirnya dijual ke Red Bull di pengujung musim 2005 dan tim berubah nama jadi Scuderia Toro Rosso.

    Musim ini Toro Rosso mengandalkan pembalap Carloz Sainz Jr dan Daniil Kvyat. Dengan bergabungnya Sean Gelael mengikuti tes mengemudikan mobil STR12, bisa menjadi tanda positif akan ada lagi penbalap Indonesia di balap F1.

    NURDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.