Sabtu, 24 Februari 2018

Asian Games 2018: Angkat Besi Keluhkan Soal Dukungan Pemerintah

Oleh :

Tempo.co

Kamis, 14 September 2017 12:44 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asian Games 2018: Angkat Besi Keluhkan Soal Dukungan Pemerintah

    Lifter Indonesia Deni menunjukkan medali emas serta mencium barbel seusai penganugerahan medali angkat besi putra nomor 59 kg SEA Games XXIX Kuala Lumpur di MITEC, Kuala Lumpur, Malaysia, 29 Agustus 2017. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Cabang Olahraga angkat besi akan menjadi salah satu andalan Indonesia di Asian Games 2018, yang akan digelar di Jakarta dan Palembang. Ada sejumlah catatan dari pengurus cabang ini terkait kesiapan atletnya.

    Menurut Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Aangkat Besi Binaraga Seluruh Indonesia, Alamsyah Wijaya, evaluasi sudah dilakukan setelah atlet tampil di SEA Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia, bulan lalu.

    PB PABBSI cukup puas dengan pencapaian atlet. Dari lima atlet yang dikirim, Indonesia meraih dua emas dan dua perak.

    Meski begitu, raihan emas didapat dari nomor yang di luar target awalan. Lifter Eko Yuli Irawan yang ditargetkan meraih emas, justru hanya meraih perak.

    Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besar Persatuan Aangkat Besi Binaraga Seluruh Indonesia, Alamsyah Wijaya, mengatakan hasil tersebut bukan suatu kekalahan besar.

    "Dia dikalahkan oleh (lifter) yang juga ada di level yang sama dengan dia," kata Alamsyah saat dihubungi Tempo, Rabu, 13 September 2017.

    Eko Yuli kalah dari atlet Vietnam, Trinh Van Vinh, dengan selisih tipis total angkatan 306-307 kg dalam pertandingan kelas 62 kilogram senior putra.

    Alamsyah mengatakan di cabang angkat besi, Indonesia adalah salah satu kekuatan di dunia. Karena itu, ketika bertanding, urusan teknik dan semacamnya bukan lagi masalah utama. Justru yang harus disiapkan adalah kesiapan psikis dan mental tiap atlet sebelum bertanding.

    Menjelang SEA Games 2017, ia menilai para atlet masih kekurangan dukungan dari pemerintah. "Fasilitas pendukung nggak ada. Recovery medic nggak ada di situ, kami harus cari di luar dengan biaya sendiri. Sedangkan minta lewat (Satlak) prima prosesnya lama," kata Alamsyah.

    Selain itu, Alamsyah mengeluhkan soal telatnya pembayaran biaya makan dan konsumsi tiap atlet selama persiapan hingga saat SEA Games. Menurut dia, terhitung sejak Januari 2017, biaya akomodasi tiap atlet masih belum dilunasi. Padahal per harinya, tiap atlet dijatah Rp 500 ribu yang dibayarkan ke hotel tempat mereka tinggal.

    Sedikit banyak, Alamsyah mengatakan hal ini kan mempengaruhi kesiapan diri para atlet. Padahal seharusnya, dengan level para atlet saat ini, seharusnya masalah seperti ini tak lagi ada. "Top class dunia itu kan siapa yang lebih siap, siapa yang menang. Bukan hanya masalah kuatnya si atlet tapi juga bagaimana persiapannya," kata Alamsyah.

    Bahkan untuk masalah suplemen bagi para atlet juga belum dapat dipenuhi pemerintah. Namun, PB PABBSI memanfaatkan kerja sama dengan sponsor untuk memenuhi kebutuhan ini.

    Permasalahan ini, menurut Alamsyah, telah disampaikan ke Kementerian Pemuda dan Olahraga, pda rapat evaluasi. Saat ini, ia mengaku masih menunggu realisasi kementerian untuk setidaknya menyelesaikan masalah pencairan dana tersebut.

    Cabang angkat besi meraih dua emas dan dua perak dalam SEA Games 2017 kemarin. Emas diraih oleh lifterDeni di nomor nomor 59 kilogram putra, dan di nomor 77 kilogram putra atas nama Ketut Ariana.

    EGI ADYATAMA


     

     

    Lihat Juga

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Ucapan Pedas Duterte, Memaki Barack Obama dan Dukung Perkosaan

    Presiden Filipina Rodrigo Duterte sering melontarkan ucapan kontroversial yang pedas, seperti memaki Barack Obama dan mengancam pemberontak wanita.