Ini Alasan Williams Kalah di Final Wimbledon 2017

Minggu, 16 Juli 2017 | 01:53 WIB
Ini Alasan Williams Kalah di Final Wimbledon 2017
Serena Williams (kiri) merangkul kakaknya, Venus Williams, setelah memenangkan final Australia Terbuka di Melbourne, 28 Janauri 2017. REUTERS/Edgar Su

TEMPO.CO, Jakarta- Venus Williams mengalami final yang antiklimaks dalam Wimbledon 2017, Sabtu 15 Juli. Petenis Amerika Serikat berusia 37 tahun ini kalah terlalu mudah dari petenis Spanyol yang 14 tahun lebih muda, Garbine Muguruza, 5-7 dan 0-6. Williams menyerah hanya dalam waktu 1 jam 17 menit.

Kecurigaan muncul, bahwa sindrom Sjogren yang diderita Williams dalam enam tahun terakhir sedang kumat. Sindrom Sjogren adalah gangguan berupa serangan terhadap kelenjar yang menghasilkan air liur dan air mata. Gangguan fisik yang dirasakan Williams akibat sindrom tersebut adalah semacam gejala rematik.

Baca: Wimbledon 2017: Federer Hadapi Cilic di Final

Namun Venus Williams tidak mengeluh bahwa penyakitnya sedang kumat, ataupun kelelahan setelah menjalani duel berat melawan petenis-petenis yang berusia lebih muda darinya, selama dua pekan di Wimbledon 2017.

“Garbine bermain sangat baik. Saya sudah mengalami hari-hari yang menyenangkan di sini, dan sekarang saya sangat kangen pada Serena,” kata Williams memberikan alasan bahwa dia kalah karena memikirkan adiknya itu, yang sedang hamil.

Muguruza sendiri tidak bersikap jumawa, meskipun dia meraih gelar juara Wimbledon pertamanya dengan menang atas Williams, peraih 5 gelar juara tunggal putri turnamen grand slam ini. Muguruza bahkan memujinya.

Baca: Final Wimbledon 2017: Bagi Venus Williams, Usia Bukanlah Kendala

“Venus pemain yang hebat. Sejak kecil, saya sudah menonton dia bermain. Jadi hari ini merupakan kebanggaan bagi saya dapat melawan Venus di final,” kata Muguruza.

Kekalahan Venus Williams di final Wimbledon 2017, membuatnya gagal menyabet gelar keenam di turnamen ini. Sekaligus menjadi petenis tunggal putri tertua yang menjuarai Wimbledon.



THE GUARDIAN | DON

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan