Selasa, 11 Desember 2018

Susy Susanti: Aturan Servis Baru Bulu Tangkis Merugikan Indonesia

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Susi Susanti. TEMPO/ Agung Pambudhy

    Susi Susanti. TEMPO/ Agung Pambudhy

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Susy Susanti mengatakan aturan baru soal tinggi servis banyak merugikan Indonesia, seperti terlihat di turnamen Jerman Terbuka 2018 yang baru berakhir. Susy menilai aturan Federasi Badminton Dunia (BWF) ini belum memiliki landasan yang kuat.
     
    "Dari posisi duduk (hakim) saja kita harus tahu posisi dengan alat (pengukur ketinggian) itu berapa. Itu kan harusnya dituangkan dalam aturan tertulis. Posisi duduk si services judges itu menentukan juga seseorang fault atau tidaknya," kata Susy saat dihubungi Tempo, Senin, 12 Maret 2018. 

    Baca: Bulu Tangkis: Gagal Juara, Fajar/Rian Keluhkan Aturan Servis Baru

     
    Aturan baru BWF ini memang mensyaratkan tinggi maksimal servis adalah 1,15 meter dari permukaan lapangan. Services judges (hakim) dengan bantuan alat manual di pinggir lapangan menjadi penentu sah tidaknya servis. Karena masih mengandalkan pandangan hakim pribadi, Susy menilai aturan yang baru diterapkan di German Open 2018 ini pun sangat riskan kesalahan.
     
    Di German Open 2018, ada nama-nama seperti Gloria Emanuele Widjaja, Rizki Amelia Pradipta, Melati Daeva Oktavianti, Mohammad Ahsan, hingga Fajar Alfian, yang servisnya kerap dinyatakan fault. Padahal, Susy mengatakan servis dengan ketentuan BWF baru sudah pernah dilatih di Pelatnas Cipayung. 
     
    "Kalau dari latihan, dengan staf yang sudah bersertifikat internasional dan dari BWF, itu kita sudah tidak (fault). Tapi dari sudut pandang mana? Kan services judges kan sudut pandangnya berbeda," kata Susy.

    Baca: Jerman Terbuka: Aturan Servis Baru Bikin Della/Rizki Sering Fault

     

    Selain merugikan pemain karena servis dinyatakan fault, aturan ini dinilai Susy juga membuat pemain tak fokus. Karena khawatir servis tak masuk, pemain hanya fokus pada servisnya saja dan tak memperhatikan lebih pada permaianan selanjutnya.
     
    Peraih emas Olimpiade Barcelona 1992 itu pun kembali mempertanyakan alasan BWF menerapkan aturan baru ini. Selain diprotes Indonesia, beberapa pemain dunia seperti Lin Dan dari Cina dan Victor Axelsen dari Denmark juga menyayangkan perubahan aturan mendasar di bulu tangkis ini.
     
    "Dengan aturan baru itu, apakah tak mengganggu jalannya pertandingan, keindahan badminton. Soalnya ini kan olahraga bukan cuma adu kuat, tapi juga ada seninya," ujar Susy.

    Baca: Aturan Baru Servis Bulu Tangkis, Apa Kata Marcus / Kevin?

     
    Indonesia gagal meraih gelar apapun di turnamen bulu tangkis Jerman Terbuka 2018. Hanya satu wakil Indonesia di nomor ganda putra yang dapat menembus final, yakni Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Fajar/Rian ditaklukkan wakil Jepang, Takuto Inoue/Yuki Kaneko. Wakil Indonesia lain harus terhenti di babak yang lebih awal.
     

     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.