Selasa, 11 Desember 2018

Penyusup Pertandingan Final Piala Dunia 2018 Ternyata Anak Band

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun twitter Pussy Riot, yang mengklaim sebagai penyusup pertandingan final Piala Dunia 2018, me-retweet cuitan @MenInBlazers bergambar penyusup sedang memberi salam pada Mbape, Minggu, 15 Juli 2018. (twitter.com)

    Akun twitter Pussy Riot, yang mengklaim sebagai penyusup pertandingan final Piala Dunia 2018, me-retweet cuitan @MenInBlazers bergambar penyusup sedang memberi salam pada Mbape, Minggu, 15 Juli 2018. (twitter.com)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Olga Kurachyova, anggota grup band Rusia yang anti-Kremlin, Pussy Riot, kini masih dalam tahanan polisi setelah bersama beberapa orang lainnya nekat masuk ke lapangan saat pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia, Minggu malam, 15 Juli 2018.

    Kepada Reuters melalui telepon, wanita tersebut mengaku bahwa ia adalah satu satu dari empat orang yang masuk ke lapangan Stadion Luzhniki Moskow, sehingga pertandingan sempat dihentikan beberapa saat.

    Baca juga: Prancis Juara Piala Dunia 2018, Kemenangan Keberagaman

    Mereka kemudian ditangkap petugas dan dibawa keluar lapangan.

    Grup punk Pussy Riot, yang anggotanya pernah ditahan karena menggelar unjuk rasa menentang pemerintahan Presiden Vladimir Putin di sebuah gereja, mengatakan melalui media sosial bahwa mereka bertanggung jawab atas insiden di lapangan sepak bola tersebut.

    Kurachyova mengatakan bahwa kini ia masih berada di tahanan kantor polisi Moskow.

    Saat masuk ke lapangan dari belakang gawang Prancis, tiga orang itu menggunakan baju putih dan celana panjang hitam. Satu orang lainnya sempat mencoba masuk namun sudah dihadang petugas di tepi lapangan.

    Pertandingan final Piala Dunia 2018 itu kemudian dilanjutkan setelah keempat penyusup ini diamankan.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.