Penyusup Pertandingan Final Piala Dunia 2018 Ternyata Anak Band

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akun twitter Pussy Riot, yang mengklaim sebagai penyusup pertandingan final Piala Dunia 2018, me-retweet cuitan @MenInBlazers bergambar penyusup sedang memberi salam pada Mbape, Minggu, 15 Juli 2018. (twitter.com)

    Akun twitter Pussy Riot, yang mengklaim sebagai penyusup pertandingan final Piala Dunia 2018, me-retweet cuitan @MenInBlazers bergambar penyusup sedang memberi salam pada Mbape, Minggu, 15 Juli 2018. (twitter.com)

    TEMPO.CO, Jakarta -  Olga Kurachyova, anggota grup band Rusia yang anti-Kremlin, Pussy Riot, kini masih dalam tahanan polisi setelah bersama beberapa orang lainnya nekat masuk ke lapangan saat pertandingan final Piala Dunia 2018 antara Prancis dan Kroasia, Minggu malam, 15 Juli 2018.

    Kepada Reuters melalui telepon, wanita tersebut mengaku bahwa ia adalah satu satu dari empat orang yang masuk ke lapangan Stadion Luzhniki Moskow, sehingga pertandingan sempat dihentikan beberapa saat.

    Baca juga: Prancis Juara Piala Dunia 2018, Kemenangan Keberagaman

    Mereka kemudian ditangkap petugas dan dibawa keluar lapangan.

    Grup punk Pussy Riot, yang anggotanya pernah ditahan karena menggelar unjuk rasa menentang pemerintahan Presiden Vladimir Putin di sebuah gereja, mengatakan melalui media sosial bahwa mereka bertanggung jawab atas insiden di lapangan sepak bola tersebut.

    Kurachyova mengatakan bahwa kini ia masih berada di tahanan kantor polisi Moskow.

    Saat masuk ke lapangan dari belakang gawang Prancis, tiga orang itu menggunakan baju putih dan celana panjang hitam. Satu orang lainnya sempat mencoba masuk namun sudah dihadang petugas di tepi lapangan.

    Pertandingan final Piala Dunia 2018 itu kemudian dilanjutkan setelah keempat penyusup ini diamankan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.