Terkait Pencucian Uang, Polisi Belgia Geledah Kantor Anderlecht

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Anderlecht Pieter Gerkens (kiri) berusaha merebut bola dari kaki pemain Paris Saint-Germain, Neymar saat bertanding dalam kualifikasi grup B Liga Champions di Parc des Princes, Paris, Perancis, 31 Oktober 2017. AP Photo

    Pemain Anderlecht Pieter Gerkens (kiri) berusaha merebut bola dari kaki pemain Paris Saint-Germain, Neymar saat bertanding dalam kualifikasi grup B Liga Champions di Parc des Princes, Paris, Perancis, 31 Oktober 2017. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi Belgia menggeledah kantor klub sepak bola Anderlecht dan juga kantor asosiasi sepak bola nasional, Rabu (Kamis WIB) terkait investigasi kasus pencucian uang yang melibatkan agen dan pemain.

    Kepada radio lokal VRT, juru bicara klub asal Brussels itu mengatakan bahwa pihak klub siap bekerjasama penuh untuk menuntaskan kasus tersebut.

    Sementara juru bicara Asosiasi Sepak Bola Belgia kepada Reuters menyatakan bahwa polisi menyita beberapa dokumen yang berkaitan dengan transfer sejumlah uang dari kantor mereka.

    "Penggeledehan tersebut berkaitan dengan kasus pencucian uang dan kelompok kriminal dan pernyataan yang diajukan adalah seputar transfer kepada satu atau lebih pemain," kata seorang jaksa penuntut federal dalam pernyataannya.

    Investigasi juga difokuskan kepada aktivitas mencurigakan oleh satu atau lebih agen dan hal-hal lain yang terjadi sebelum 2016.

    Menurut VRT dan media lokal lainnya, jaksa penuntut sedang mendalami transfer yang dilakukan sebelum perubahan kepemilikan Anderlecht pada 2017.

    Di antara transfer yang sedang didalami adalah penjualan penyerang asal Serbia Aleksandar Mitrovic ke klub Ingggris Newcastle United pada 2015. Namun pihak klub anggota Liga Primer menolak untuk memberikan komentar.

    Aksi penggeledahan oleh polisi ini adalah mimpi buruk bagi Anderlecht, juara Belgia 2017 dan merupakan klub paling sukses dalam sejarah sepak bola negara tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.