Gelar Halal Bihalal, KPSN Kembali Ajak Berantas Mafia Bola

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN), Suhendra Hadikuntono. (foto: KPSN)

    Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN), Suhendra Hadikuntono. (foto: KPSN)

    TEMPO.CO, Jakarta - Perwakilan empat matra angkatan, yakni TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut, TNI Angkatan Udara, dan Kepolisian RI menghadiri acara Halal Bihalal Idul Fitri 1440 H Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu malam 3 Juli 2019, yang mengusung tema, “Bersatu Mendukung Presiden RI Bersihkan PSSI dari Mafia”, yang dikaitkan dengan syukuran terpilihnya Presiden Joko Widodo-KH Maruf Amin pada Pilpres 2019.

    Dalam acara yang dimeriahkan grup band legendaris Panbers ini, para perwira tinggi dari empat matra angkatan itu berbaur dengan undangan lainnya yang didominasi insan-insan sepak bola, seperti para mantan pemain legendaris, pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), para pemilik suara atau voters PSSI, pemilik dan pengurus klub sepak bola, Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali, Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia Ignatius Indro, politisi, wartawan senior sepak bola Yesayas Oktovianus, Koordinator Relawan Jokowi-Maruf, Kanjeng Pangeran Norman Hadinegoro, dan Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Dr Achmadi SH.

    Yesayas yang diberikan kesempatan menyamapaikan testimoni mendukung tekad Presiden Jokowi membersihkan PSSI dan persepakbolaan Indonesia dari mafioso.

    “Presiden Jokowi menyampaikan langsung kepada saya mau memberantas mafia hingga ke akar-akarnya. Sebab itu, langkah Pak Suhendra ini baik sekali, selaras dengan tekad Presiden,” ujarnya.

    Ketua KPSN Suhendra Hadikuntono dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan dari beragam latar belakang itu. Senyampang masih dalam suasana Lebaran, atas nama pribadi, keluarga dan KPSN, Suhendra menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin.

    Menurut Suhendra, Presiden Jokowi memberikan perhatian yang lebih terhadap kondisi persepakbolaan nasional dan PSSI yang tengah dirundung berbagai masalah, mulai dari match fixing atau pengaturan skor pertandingan, carut-marutnya pengelolaan organisasi PSSI, hingga mandulnya prestasi sepak bola nasional.

    Perhatian serius itu, kata Suhendra, ditunjukkan Jokowi dengan menginstruksikan Satuan Tugas (Satgas) Antima Sepak Bola Polri untuk membabat habis mafia sepak bola. Presiden ingin PSSI dibersihkan dari oknum-oknum nakal.

    “Untuk itu, sebagai insan sepak bola yang mendambakan negeri ini berprestasi di kancah dunia, sudah sepatutnya kita memberikan dukungan kepada Pak Jokowi,” jelasnya.

    Karena masa tugas Satgas Antimafia Sepak Bola Polri tidak diperpanjang, kata Suhendra, untuk menuntaskan pemberantasan match fixing, KPSN akan menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    “Kami sudah meminta KPK untuk melakukan audiensi. Jangka panjang membersihkan PSSI dan persepakbolaan nasional dari praktik suap dan korupsi, KPSN telah mendaftarkan komisionernya sebagai calon pimpinan KPK,” cetus pendiri Hadikuntono’s Institute (research, intelligent, spiritual) ini.

    Sampai berakhir masa tugasnya, 21 Juni 2019, Satgas Antimafia Sepak Bola menetapkan 17 orang sebagai tersangka.

    Selain ingin membersihkan PSSI dengan memberantas macth fixing, KPSN juga ingin mengembalikan PSSI ke khitah kelahirannya pada 19 April 1930 di Yogyakarta, yakni menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa dan sarana menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain yang lebih maju melalui prestasi sepak bola Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?