Erick Sebut Alasan Indoneia Layak Tuan Rumah Olimpiade 2032

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir memberikan sambutan dalam pembukaan Olympic Movement in Action di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Agustus 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir memberikan sambutan dalam pembukaan Olympic Movement in Action di Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Jumat, 2 Agustus 2019. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Erick Thohir menjelaskan alasan mengapa Indonesia layak menjadi tuan rumah Olimpiade 2032. Salah satunya, komposisi penduduk Indonesia paling banyak adalah pemuda. Ia menyebutkan sekitar 58 persen penduduk usianga di bawah 35 tahun.

    "Kita lihat sendiri gerakan Olimpiade ini sangat cocok dengan gerakan pemuda Indonesia," ujar Erick seusai membuka event Olympic Movement in Action di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat, 2 Agustus 2019.

    Erick menyebut komposisi penduduk yang didominasi pemuda ini dengan istilah bonus demografi. Dalam rentang dari tahun 2020 sampai 2035, usia produktif atau usia 16 sampai 30 tahun warga Indonesia akan mencapai 64 persen atau sekitar 150 juta jiwa dari total jumlah penduduk sekitar 297 juta jiwa. Selama kurun 15 tahun tersebut, Indonesia akan menikmati bonus demografi di mana jumlah usia produktif Indonesia diproyeksikan berada pada grafik tertinggi.

    Erick menambahkan, semangat Olimpiade yakni perdamaian dan fair play bisa terwujud dengan kolaborasi generasi muda. Dengan bergotong royong membangun olahraga, kata dia, generasi muda bisa berkembang menjadi lebih hebat dari pendahulu.

    "Mestinya generasi muda Indonesia menjadi generasi hebat yang notabene membangun Indonesia ke depan," ucapnya.

    Menurut dia, nilai fair play dari Olimpiade yang harus dipelajari generasi muda Indonesia. Selama ini, kata mantan Presiden Inter Milan, banyak keluhan dari berbagai pihak yang merasa mendapatkan kesempatan dan fasilitas berbeda dalam sebuah pertandingan atau kompetisi.

    Padahal, dia melanjutkan, anggapan seperti itu yang kadang memicu tindakan tidak sportif. "Akhirnya terjadi hal-hal yang kurang baik, padahal justru di balik kompetitif yang baik terjadi fair play. Semuanya bersemangat untuk menghasilkan sesuatu yang baik," kata Erick.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.