Indonesia Disebut Terlambat Membangun Esports

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet eSports, Jianwei Yap. (liquipedia.net)

    Atlet eSports, Jianwei Yap. (liquipedia.net)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga, Gatot Dewa Broto mengatakan Indonesia tergolong terlambat membangun eSports. Menurut dia, baru tujuh tahun terakhir esports dikenal luas di Indonesia.

    Padahal bila melihat negara lain, esports sudah berkembang 15 tahun lalu. "Euforia baru terjadi dua tahun untuk mengadakan event dan turnamen eSports," kata Gatot dalam dialog bertajuk “Membangun Ekosistem Esports" di Plaza Senayan, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.

    Agar tidak semakin tertinggal, lanjut dia, pemerintah terus berupaya membangun ekosistem eSports. Salah satu caranya ialah dengan menggelar Piala Presiden Esports (PPE) perdana pada awal tahun ini.

    Berbagai komunitas esports Indonesia merespons positif turnamen tersebut. Oleh sebab itu, menurut Gatot, pemerintah memastikan Piala Presiden Esports akan kembali di gelar pada 2020. Selain itu, lanjut Gatot, pemerintah juga sedang menyusun regulasi untuk mempercepat perkembangan ekosistem esports. "Yang tidak kalah penting mendukung pelaksanaan event atau turnamen esports,” ujar Gatot

    Giring Ganesha yang kembali ditunjuk menjadi Ketua Panitia Pelaksana Piala Presiden Esports 2020 menyatakan esports akan memberi dampak besar, baik dari sisi prestasi dan ekonomi. Senada dengan Gatot, Giring menilai harus ada kompetisi yang berjenjang agar Indonesia mempunyai atlet esports berkualitas.

    Harus ada kompetisi yang menjadi carrier path atlet-atlet berprestasi. Sehingga sponsor juga terus masuk dan semakin berkembang,” kata Giring.

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.