Belajar Berdagang dari Klub-Klub Belanda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Belanda memang bangsa pedagang sejati. Perusahaan multinasional pertama di dunia dibuat mereka dengan nama VOC--perusahaan yang berhak mencetak mata uang, memiliki tentara, dan memerintah Indonesia. Dan kini, setelah tanah jajahannya lepas satu-persatu, jiwa pedagang itu disalurkan ke dunia lain: sepakbola.

    Dua klub besar Belanda, Ajax dan Feyenoord, memang beberapa kali mengeluh kecilnya duit hak siar televisi yang didapat membuat mereka kesulitan berbicara di tingkat Eropa.  Tapi dua klub Belanda yang pernah juara Eropa ini bisa jadi kekecualian.

    Benar Liga Belanda, Eredivisie, jauh lebih miskin dibanding Liga Primer Inggris, La Liga, atau Serie A. Hak siar yang didapat satu tim Liga Primer, mungkin, lebih banyak daripada hak siar seluruh tim Eredivisie. Tidak ada pula multimilioner yang berebut membeli klub seperti Liga Primer.

    Tapi mereka bisa menoleh ke klub juara Eropa lain seperti PSV. Tim ini sering menjadi kuda hitam Liga Champion. Kunci keberhasilan PSV dan tim-tim Belanda lain adalah mental pedagang itu: pintar mencari pemain murah, membuatnya terkenal, dan menjual dengan harga berlipat-lipat.

    Lihat saja keuntungan yang didapat PSV dengan menjual Ruud Van Nistelrooy ke Manchester United. PSV membeli Nistelrooy 6,3 juta euro (Rp 80,9 miliar) dari Heerenven dan menjual ke Manchester United seharga 19 juta poundsterling  (Rp 315,2 miliar) alias untung hampir empat kali lipat.

    Dan Heerenven juga tidak merasa rugi dengan menjual Nistelroy 6,3 juta euro ke PSV karena mereka membeli dari tim divisi dua FC Den Bosch hanya 350 ribu euro (Rp 4,5 miliar). Ini berarti mereka untung delapan kali lipat.

    Heerenven ini sangat cerdik dalam membeli pemain. Selama 15 tahun terakhir mereka merekrut pemain tidak hanya Nistelrooy tapi juga Jon Dahl Tomasson, Klaas Jan Huntelaar, Georgios Samaras, Afonso Alves, dan Miralem Sulejmani saat mereka belum terkenal dan masih murah.

    Total untuk belanja para pemain yang kemudian sangat terkenal itu hanya sekitar 5,25 juta poundsterling (Rp 87 miliar). Ketika para pemain itu bermain bagus untuk Heerenven, perlahan tim-tim kaya melirik dan membelinya. Dari jualan mereka, Heerenven meraup 48,5 juta poundsterling (Rp 804 miliar)  atau untung hampir 10 kali lipat.

    Kesebelasan Liga Primer Inggris, seperti Tottenham Hotspur, pasti ngiler dengan keuntungan tim-tim Belanda ini. Daniel Levy, pemilik Spurs saat ini, berusaha menerapkan mental dagang untuk transfer pemain. Ia membeli pemain yang kurang terkenal--seperti Dimitar Berbatov--dengan harga miring dan menjual mahal.

    Tapi karena ia melakukannya dengan ceroboh--termasuk jual beli pemain di saat terakhir sehingga tidak sempat mencari pemain pengganti jika gagal--mengakibatkan Spurs menjadi tim yang terus-menerus kalah di Liga Primer.

    Nurkhoiri/Guardian


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ada 17 Hari dalam Daftar Libur Nasional dan Sisa Cuti Bersama 2021

    SKB Tiga Menteri memangkas 7 hari cuti bersama 2021 menjadi 2 hari saja. Pemotongan itu dilakukan demi menahan lonjakan kasus Covid-19.