Legenda Reli Dakar Hubert Auriol Meninggal, Peterhansel: Dia Sosok Luar Biasa

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dalam foto yang diambil 16 Januari 1999, pebalap Prancis Jean-Louis Schlesser (kiri) dan rekan satu timnya Philippe Monnet (kanan) mengapit direktur lomba Hubert Auriol setelah etape 15 Reli Dakar dari Nouakchott, Mauritania ke Saint-Louis, Senegal. (Antara/AFP)

    Dalam foto yang diambil 16 Januari 1999, pebalap Prancis Jean-Louis Schlesser (kiri) dan rekan satu timnya Philippe Monnet (kanan) mengapit direktur lomba Hubert Auriol setelah etape 15 Reli Dakar dari Nouakchott, Mauritania ke Saint-Louis, Senegal. (Antara/AFP)

    TEMPO.CO, Jakarta - Legenda Reli Dakar, Hubert Auriol, berpulang pada Ahad, 10 Januari 2021. Stephane Peterhansel memimpin upacara penghormatan buat pembalap pertama yang memenangi gelar di kategori sepeda motor dan mobil itu pada Minggu.

    Peterhansel melakukannya di arena Reli Dakar yang kini tengah berlangsung. Ia mengenang Auriol setelah etape tujuh, yang menempatkannya sebagai pemimpin klasemen sementara lomba.

    "Saya berada di reli ini karena apa yang saya lihat, apa yang Hubert telah lakukan," kata Peterhansel seperti dikutip AFP. "Bagi saya dia selalu menjadi panutan dalam hal kelas dan kecerdasan."

    Auriol meninggal pada usia 68 tahun setelah lama mengidap penyakit jantung.

    Tak ingin menyerah dengan sakit yang mempengaruhi kesehatannya, Auriol menyempatkan diri ke Arab Saudi untuk melihat edisi pertama Dakar di Timur Tengah tahun lalu, untuk terakhir kalinya menyambangi komunitas yang ia bantu kembangkan.

    Ketika Reli Dakar belum lama lahir di Afrika, Auriol menjadi salah satu wajah ikonik di reli tersebut setelah menang dua kali kategori sepeda motor pada 1981 dan 1983.

    Pria kebangsaan Prancis kelahiran Addis Abeba itu kemudian mendapat julukan "The African".

    Tahun 1992 menyaksikan Auriol sebagai pembalap pertama yang memenangi dua kategori berbeda setelah kolaborasinya dengan navigator Philippe Monnet membuahkan gelar di kategori mobil.

    Salah satu momen yang paling mengenang terjadi pada 1987 ketika dia kalah dari rival utamanya sekaligus kompatriotnya Cyril Neveu setelah mengalami patah kedua mata kakinya di etape penultima.

    Setelah finis runner-up pada 1994, dia meninggalkan kemudi mobilnya dan memimpin jalannya Dakar sebagai race director hingga 2003.

    Peterhansel mengikuti jejak pembalap yang menjadi pahlawannya itu dengan mengklaim tujuh gelar di kategori mobil setelah merebut enam gelar di kategori sepeda motor.

    "Dia adalah orang yang luar biasa, selalu tersenyum bahkan di momen-momen terberat," kata Peterhansel. "Ini hari yang sangat menyedihkan bagi dunia reli... bagi Dakar."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.