Tak Kunjung Bersikap, Juventus Bertahan di Proyek European Super League?

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Juventus Adrien Rabiot merayakan gol pertama timnya dalam Liga Italia Serie A melawan Lazio di Stadion Allianz Stadium, Turin, Italia, Ahad dinihari, 7 Maret 2021. Sempat tertinggal satu gol dari Lazio, Juventus bangkit. REUTERS/Massimo Pinca

    Pemain Juventus Adrien Rabiot merayakan gol pertama timnya dalam Liga Italia Serie A melawan Lazio di Stadion Allianz Stadium, Turin, Italia, Ahad dinihari, 7 Maret 2021. Sempat tertinggal satu gol dari Lazio, Juventus bangkit. REUTERS/Massimo Pinca

    TEMPO.CO, Jakarta - Juventus adalah satu-satunya klub Serie A yang belum bersikap tentang kelanjutan European Super League atau Liga Super Eropa. Si Nyonya Tua tak mengikuti jejak sejumlah klub yang menyampaikan permohonan maaf kepada suporter. Mereka berkukuh atas rencana tersebut.

    Presiden Juventus Andrea Agnelli juga tidak akan mengundurkan diri dari posisinya setelah rencana Liga Super Eropa mengegerkan jagad sepak bola benua biru tersebut. Meski begitu, kepada Reuters, Agnelli mengakui bahwa rencana Liga Super tidak mungkin lagi berkembang setelah enam klub Liga Primer Inggris menarik diri.

    Pemilik Liverpool John William Henry meminta maaf kepada penggemar The Reds atas keterlibatannya sebagai pendiri European Super League. Bagitu pula Dewan Direksi Arsenal yang menyampaikan permohonan maaf dalam pernyataan resmi klub. Sedangkan Manchester City, tanpa embel-embel penolakan penggemar, menjadi tim pertama yang menolak rencana tersebut.

    Dari Serie A Liga Italia, Inter Milan mengumumkan pengunduran diri dari kompetisi tandingan Liga Champions Eropa itu. Dalam pernyataannya klubnya, Inter mengungkapkan, “Kami selalu berkomitmen untuk memberikan pengalaman sepakbola terbaik kepada para penggemar; inovasi dan inklusi adalah bagian dari DNA kami sejak didirikan. Keterlibatan kami dengan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan industri sepak bola tidak akan pernah berubah. ”

    Milan tidak secara eksplisit mengatakan mereka mundur dari Liga Super, tetapi bersikeras klub harus peka terhadap suara para penggemar. "Klub harus peka dengan mereka yang mencintai sepak bola,” tulis pernyataan resmi AC Milan.

    Berbeda dengan dua klub Italia lain, Juventus tidak bersikap dengan mengumumkan pengunduran diri mereka dari Liga Super. Dalam pernyataan resminya, klub Kota Turin itu menyatakan bahwa, “Juventus tetap yakin akan kesehatan proyek olahraga ini secara komersial dan legal. Kami percaya bahwa saat ini setiap tim memiliki kesempatan yang terbatas untuk menyelesaikan proyek dalam bentuk yang semula dipahami bersama.

    Pernyataan klub itu dilanjutkan dengan menerangkan bahwa, "Juventus tetap berkomitmen untuk mengejar dan menciptakan nilai jangka panjang bagi perusahaan dan seluruh industri sepak bola.” Tekanan pun meningkat kepada Andrea Agnelli yang menjadi salah satu arsitek utama proyek Liga Super ini.

    Wakil Ketua Eksekutif Manchester United Ed Woodward, sebelumnya, mengundurkan diri tak lama setelah Setan Merah menarik diri dari keikutsertaannya di European Super League. Hal ini memicu tuntutan serupa di sejumlah klub Inggris dan Italia.

    Dikutip dari Football Italia, 22 April 2021, ada laporan yang menyebutkan bahwa Agnelli bisa digantikan oleh sepupunya, Alessandro Nasi sebagai Ketua Juventus. Namun, klub membantahnya dan menyebut rumor itu sebagai berita palsu.

    Fakta bahwa klub tidak meminta maaf kepada penggemar menunjukkan bahwa Agnelli tidak bersedia mengundurkan diri. Namun, sejumlah rumor juga menyebutkan bahwa situasi keuangan Juventus menjadi pertimbangan klub raksasa Italia itu menentukan sikap terhadap rencana European Super League tersebut.

    Baca juga : Presiden Juventus Andrea Agnelli Masih Yakin Proyek Liga Super Eropa, tapi...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.