Mengenal Laurel Hubbard, Atlet Transgender Pertama Tampil di Olimpiade

Reporter:
Editor:

Ahmad Faiz Ibnu Sani

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lifter asal Selandia Baru, Laurel Hubbard saat bertanding di Gold Coast 2018, di Carrara Sports Arena 1, Australia, 9 April 2018. Laurel Hubbard akan turun di nomor +87 kilogram putri Olimpiade Tokyo 2021. REUTERS/Paul Childs

    Lifter asal Selandia Baru, Laurel Hubbard saat bertanding di Gold Coast 2018, di Carrara Sports Arena 1, Australia, 9 April 2018. Laurel Hubbard akan turun di nomor +87 kilogram putri Olimpiade Tokyo 2021. REUTERS/Paul Childs

    TEMPO.CO, Jakarta - Atlet Selandia Baru, Laurel Hubbard, akan mencatat sejarah sebagai transgender pertama yang berkompetisi di ajang Olimpiade. Hubbard akan turun di pertandingan angkat besi kategori 87 kilogram, di Olimpiade Tokyo pada Senin, 2 Agustus mendatang.

    Laurel Hubbard menjadi transgender saat usianya 35 tahun. Sebelumnya, ia telah berkompetisi di kompetisi pria sebelum memutuskan menjadi transgender pada 2012.

    Agar dapat bertanding, Laurel Hubbard harus mengikuti aturan dari International Olympic Commitee (IOC) 2015, yang mengharuskan semua atlet perempuan memiliki tingkat testosteron di bawah 10 nanomole per liter setidaknya dalam kurun waktu 12 bulan sebelum bertanding.

    Kehidupan Laurel Hubbard

    Laurel Hubbard merupakan anak dari keluarga pebisnis. Ayahnya adalah Richard Hubbard, pendiri Hubbard Food yang menjual sereal di Auckland, Selandia Baru.

    Hubbard sendiri mulai berkompetisi atlet angkat besi junior sejak 1998 saat berusia 20 tahun. Kala itu, Hubbard memulai karer dengangkat beban 300 kg dalam kategroi angkat besi +105 kg. 

    Berdasarkan wawancaranya bersama Radio New Zealand pada 2017, Hubbard mengatakan memilih cabang olahraga angkat besi karena ia ingin merasa seperti laki-laki.

    Kariernya sebagai atlet terbilang sukses. Namun, Hubbard sempat mengambil jeda dari dunia angkat besi di tahun 2000-an. Kabarnya, hal tersebut ia lakukan karena mengalami banyak tekanan sosial.

    Pada 2012, Laurel Hubbard memutuskan untuk menjadi transgender saat berusia 35  tahun. Ia merasa yakin dengan pilihannya itu setelah IOC menyesuaikan peraturan mereka mengenai transgender pada 2003. Dalam aturan baru tersebut, transgender dapat ikut berkompetisi.

    Setelah ada penyesuaian pada 2015, aturan resmi dari olimpiade menyebutkan perempuan transgender dapat ikut bertanding jika status hormon testostero mereka sudah sesuai.

    Kini, Laurel Hubbard menjadi atlet yang menempati posisi ketujuh dalam daftar International Weightlifting Federation (IWF). Ia masuk dalam kategori angkat besi +87 kg.

    Selain itu, Hubbard merupakan atlet angkat besi tertua dalam kategorinya. Selama bertanding, ia telah meraih banyak kemenangan dari berbagai kompetisi sejak kembali bertandig pada 2017.

    Laurel Hubbard juga berhasil meraih medali emas di pertandingan IWF Wold Championship pada 2019 dan Oceania Senior Championship pada 2019. Ia juga berhasil mendapat empat perak dan dua medali perunggu di kompetisi lain.

    M. RIZQI AKBAR

    Baca juga:

    Laurel Hubbard Akan Jadi Atlet Transgender Pertama yang Tampil di Olimpiade


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.