Pembangunan Stadion Prancis Terbuka Terhambat Isu Politik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rolandgarros.com

    Rolandgarros.com

    TEMPO Interaktif , Paris – Isu politik berimbas ke olahraga. Pembangunan stadion baru untuk Prancis Terbuka dihentikan karena isu politik. Namun Federasi Tenis Prancis menyatakan tetap percaya rencana pembangunan akan dilanjutkan.

    prancis openGilbert Ysern, Direktur Jenderal Federasi Tenis Prancis, mengatakan bahwa Wali Kota Paris tak yakin proyek ini kelar. “Kami sedang dalam pembicaraan dan sekarang masalahnya rumit,” ujarnya. “Balai Kota sedang menghadapi kekuatan oposisi, namun kami akan bekerja sangat serius dalam proyek ini dan ini adalah pilihan favorit kami. Kami adalah federeasi yang kuat dan kami akan sukses.”

    Federasi mengumumkan bahwa tahun ini proyek membangun lapangan utama dengan atap yang bisa dibuka dan tutup diharapkan bisa digunakan pada tahun 2013 atau 2014. Stadion baru ini akan berkapasitasi 14.600 tempat duduk. Lokasinya tak lebih dari 500 meter dari lapangan utama saat ini dan berada di antara dua lapangan yang lebih kecil. Biaya pembangunan ini diperkirakan akan menelan dana US$ 177 juta atau Rp 1,6 triliun.

    Proyek pembangunan ini ditentang oleh partai hijau dari dewan kota dan penduduk yang tinggal di sekitar stadion. “Balai kota Paris dan mayoritas politikus ingin Prancis Terbuka tetap digelar di Paris,” demikian penjelasan dari balai kota. “Kami ingin menemukan solusi dalam area ini.”

    Ysern menegaskan bahwa federasi masih mempunyai hak untuk menggunakan Roland Garros sampai 2015. “Kami telah siap menggelontorkan banyak uang, janji bertemu dengan arsitek dan siap memulai pekerjaan ini. Kami tidak bisa buang-buang waktu. Kami harus segera bekerja.”


    AP| NUR HARYANTO






     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.