Spurs Masih Mengandalkan Taji Tim Duncan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain San Antonio Spurs Tim Duncan diapit dua pemain Dallas Mavericks Caron Butler (kiri) dan Brendan Haywood, dalam pertandingan ke 2 babak playoff di Dallas (22/4). REUTERS/Mike Stone

    Pemain San Antonio Spurs Tim Duncan diapit dua pemain Dallas Mavericks Caron Butler (kiri) dan Brendan Haywood, dalam pertandingan ke 2 babak playoff di Dallas (22/4). REUTERS/Mike Stone

    TEMPO Interaktif,San Antonio:Dalam usia 35 tahun, Tim Duncan menjadi pemain tertua kedua di San Antonio Spurs setelah Antonio McDyess yang berumur 37 tahun. Namun ia masih bisa menunjukkan performa bagus di dalam lapangan dan pelatih Spurs, Greg Popovich, masih mengandalkannya di daftar tim utama untuk kompetisi Liga Basket Amerika musim 2010/2011 yang dimulai Oktober nanti. 

    Popovich akan memulai latihan tim pada 27 September mendatang dan Duncan adalah pemain tidak pernah ia lepaskan dari daftar tim utama. Bergabung dengan Spurs sejak 1997, Duncan sudah identik dan menjadi ikon tim itu. Duncan sukses menyumbangkan Spurs mendapatkan empat gelar juara NBA, terakhir kali pada 2007 lalu.

    Duncan bekerja keras menjaga kondisi fisiknya untuk tetap fit dan dikabarkan berhasil menurunkan berat badannya hingga tujuh kilogram. Ia bakal bergabung dalam pemusatan latihan Spurs dengan badan yang terlihat lebih langsing ketimbang musim lalu. "Rasanya dia memang lebih langsing daripada yang kulihat tahun lalu. Dia sangat serius dengan kompetisi ini dan tahu tanggung jawabnya. Dia ingin menang lagi," kata Popovich.

    Duncan sudah mendapatkan segalanya selama 14 tahun berkarir di NBA. Selain empat gelar juara NBA, Duncan juga mendapatkan gelar pemain terbaik, 12 kali masuk tim All Star serta masuk daftar pemain bertahan terbaik di NBA. Pemain dengan tinggi 2,11 meter ini sangat produktif dan dikenal dengan tembakan pantulan ke papan ring yang sulit digagalkan pemain lawan. Sepanjang karirnya ia mencetak rata-rata 21 poin, 8 rebound dan 2 blok setiap pertandingan.

    Pada era 1997-2003, Spurs begitu dominan dalam bertahan maupun menyerang karena mereka memiliki Duncan dan David Robinson yang dijuluki sebagai "Menara Kembar". Tidak ada yang mampu melewati dua pemain ini ketika mereka tampil bersama di lapangan. Robinson mengakhiri karirnya di Spurs dengan manis dengan mendapatkan trofi juara pada 2003.

    Setelah era Duncan-Robinson selesai, Spurs langsung berubah haluan dengan mengandalkan serangan cepat dan tembakan jarak jauh. Tony Parker, pemain guard asal Prancis, serta Manu Ginobili membuat kerja Duncan di dalam paint area lebih mudah. Parker punya kecepatan dan dribbling yang hebat sementara Ginobili memiliki tembakan tiga angka yang akurat.

    Dengan usia yang tidak muda lagi, Duncan kini punya keterbatasan stamina dalam bermain. Namun ia tampaknya tak perlu khawatir karena Spurs sudah merekrut Tiago Splitter, pemain forward asal Brasil berusia 25 tahun yang memiliki tinggi badan 2,11 meter. Splitter sebelumnya adalah pemain klub Saski Baskonia yang berhasil meraih gelar juara dan jadi pemain terbaik Liga Spanyol musim lalu.

    Kedatangan Splitter tidak menjamin "Menara Kembar" akan kembali berdiri di Spurs karena pemain itu lebih dominan dalam pertahanan. Namun Splitter bisa memperkuat formasi inti Spurs yang berisi Parker, Ginobili, Duncan dan Richard Jefferson. "Kami punya kesempatan untuk meraih gelar juara lagi, tidak ada alasan bahwa tim ini tidak bisa mendapatkannya. Namun kami juga harus menghadapi sedikitnya 10 tim yang punya peluang sama seperti kami," kata Popovich.

    AP | NBA | GABRIEL WAHYU TITIYOGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.